Minggu, 05 Desember 2021

IBU AMISAH

Bekasi, 5 Desember 2021

Meski Usia Setengah Abad 

Ilustrasi matahari pagi
Pajar merekah mulai menyibakkan selimut sutra putih, perlahan sinarnya menerpa hijau pucuk daun nangka yang tumbuh besar di samping rumah tua. Sesekali kilau terpancar dari biasan embun yang masih rindu dekapan malam dan sebagian menembus lubang-lubang bilik yang sudah renta. Tanah lataran nampak sedikit basah, kemarin sore memang hujan turun walau tak seberapa lama. Angin dingin semilir berhembus seakan menyapa dahan dan ranting-ranting yang masih bermalas-malasan.

Ibu Amisah adalah sosok ibu yang tak pernah mengeluh. Meski usia sudah setengah abad lebih namun tekad untuk membantu sang suami untuk memenuhi kebutuhan hidup tak pernah surut. Maklum penghasilan suami hanya mengandalkan panen dari beberapa pohon nangka, kelapa, petai, dan kedondong.

Ladang yang tak seberapa luas ditanami beberapa jenis ripang seperti jahe, lengkuas, kunyit, dan kencur di beberapa tempat ada tanaman cabai. Hasil tanaman itu tidak menjadi tambahan penghasilan sebab hanya untuk sedikit menopang kebutuhan tertentu saja.

Sebelum subuh ibu Amisah telah terjaga dan berkholwat dengan Sang Pencipta. Beberapa adonan kue sudah ada di atas meja sebagian yang sudah matang siap dikemas, biasanya selepas subuh pekerjaan itu pun dilanjutkan hingga pengemasan selesai tepat pukul enam. 

Sudah menjadi rutinitas anak-anaknya membantu mengantarkan kue-kue itu ke beberapa warung dan kantin sekolah. Yani, anak perempuan yang berusia lima belas tahun membantu pekerjaan itu. Yani hanya lulus sekolah dasar INPRES (Instruksi Presiden) yang letaknya sekitar satu setengah kilo meter dari rumahnya dan itu melalui pematang sawah. 

Dalam keriput kulit pipi dan letihnya usia seakan tak nampak sedikitpun duka. Senyum dan wajah penuh warna seakan membungkus kecemasan yang setiap hari datang dalam kegamangan. "Akankah esok pajar kembali merekah?". Jika hari-hari diselimuti gelap dan hujan tentu dagangan pun tak banyak terjual. Dibalik kerisauannya ia selalu memohon di sepertiga malam agar esok anaknya dapat makan dan jajan.

Nasi Goreng Untuk Anak

Ilustrasi dua anak pulang sekolah
Hari mulai siang, matahari tepat di atas kepala, alunan azan dzuhur terdengar samar dari kejauhan. Manto dan adiknya  Supri dua orang anak laki-laki pulang dari sekolah, SD Negeri Bekasi Jaya tempat mereka bersekolah. Keringat bercucuran  membasahi wajah-wajah yang nampak lusuh. "Ibu mana kak?" tanya salah seorang dari mereka kepada Yani kakaknya. "Ada, sudah sanah ganti pakaian kalian dan setelah itu makan!"


Selepas mengganti pakaian mereka pun menghampiri meja makan. Tudung saji pun dibuka perlahan, nampak dua piring nasi goreng sudah disiapkan. "Ibu tidak nyayur kak?",tanya Manto pada kakaknya. "Sudah makan saja yang ada!", jawabnya sambil berbisik seakan ada sesuatu yang tidak ingin diketahui kedua adiknya itu.

Nasi goreng hanya dengan bumbu cabai, bawang merah, dan garam habis dilahap oleh keduanya. Rasa lapar mungkin sudah dirasakan sejak dari sepulang sekolah, wajar saja sebab kedua anak itu tidak membawa bekal saat berangkat ke sekolah. Mereka hanya sarapan nasi putih dan goreng garam (Garam yang digoreng dengan irisan cabai dan bawang). Bagi mereka meski makan hanya seadanya tidak pernah merasa kecewa bahkan mereka sangat menyadari jika untuk membeli beras saja kedua orangtuanya harus bersusah payah. Tidak jarang sang ayah harus hutang beras ke toko Cina yang sangat dikenal dan mempercayainya, Encim Eler namanya. 

Kini perut sudah terisi, sejak tadi ibunya tidak nampak di hadapan kedua anak itu. Manto mencari keberadaan ibunya. Saat menyibakkan gorden pintu kamar didapati ibu Amisah sedang tertidur. Yani, kakaknya memberi isyarat lambaian tangan memanggil, segera saja Manto menghampirinya. "Ibu tadi pesan minta dibangunkan saat menjelang asar". Sangat sering ibu Amisah tidak nampak ikut makan saat anak-anaknya makan bahkan pernah satu ketika ia berbohong kepada anak-anaknya kalau ia sudah makan. Rasa sayang kepada anak-anaknya begitu besar sehingga sering kali ia melakukannya agar anak-anaknya tenang. 

Ilustrasi memasak saat pesta
Ibu Amisah memang sosok ibu tua yang tidak pernah merasa lelah, jika ada tetangga yang memintanya untuk membantu memasak di sebuah pesta pernikahan atau khitan ia sangat ringan tangan. Ia tidak memikirkan apakah diberi upah besar atau kecil hal itu bukan menjadi tujuan, baginya dapat membantu saja sudah cukup.

Jumat, 03 Desember 2021

KAMPUNG TELUK ANGSA (N)


Ilustrasi sawah kampung Teluk Angsa
Bekasi,  2 November 2021

Oleh Surmanto Adam

Langit  cerah berawan, angin dingin sesekali berhembus perlahan, ranting-ranting genit seakan melambai bak tarian melayu nan elok penuh gemulai. Kampung Teluk Angsa (n) seakan hanyut terbuai alunan musik alam dari gesekan rerimbunan rumpun-rumpun bambu dan ilalang.  Sawah dan ladang terhampar luas membentang, ya, yang aku tahu kampungku memang sungguh rupawan.

Masih terlintas jelas dalam setiap lamunanku, anak-anak riang bermain setiap matahari mulai terbenam. Biasanya saat masuk masa panen raya anak-anak sibuk membantu orangtua mereka. Ada yang membawa sabit atau parang, membawa ani-ani, dan membawa bakul besar serta beberapa karung untuk membawa hasil panen.

Kampung di seberang sawah adalah Kampung Teluk Angsa Rawa lebih dikenal Kampung Rawa. Sedang di sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Rawa ada sebuah kampung yang memanjang hingga sampai batas rel kereta, Kampung Mede namanya. Entah legenda apa yang menamai kampung masing-masing, namun kalau Kampung Mede yang aku tahu memang terdapat kebun buah mede yang sangat luas dan berbatasn dengan pemakanan kampung.

Aku sangat mengenal dan hapal betul nama-nama anak dari tiga kampong tersebut, bahkan aku begitu akrab dengan mereka dan sering bermain bersama terlebih musim kemarau tiba, anak laki-laki biasa bermain bola bersama di sebuah lapangan desa.

Tak pernah ada perselisihan antar anak kampung dalam kehidupan sehari-hari, sebab memang di desaku ini yang bernama desa Bekasi Jaya rata-rata memiliki sanak family yang tinggal di tiga kampung. Terlebih sekolahku itu satu-satunya sekolah yang muridnya dari ketiga kampung tersebut, SD Negeri Bekasi Jaya namanya.

Ilustrasi anak bermain bola

Saat kemarau selepas asar disetiap Sabtu dan Minggu tempat favorit yang menjadi pertemuan anak-anak dari ketiga kampung adalah lapangan desa. Disana bermain bola paling disukai, anak perempuan biasa bermain di pinggiran sambil memetik bunga liar untuk dirangkai menjadi mahkota. Anak-anak yang lebih kecil senang menangkap belalang, capung, dan kepik. Sesekali jika melihat burung hinggap di dahan yang rendah, mereka kejar walau tidak didapat.

Ilustrasi anak mandi di empang

Bermain bola bagi anak-anak kampung tidak mengenal musim, saat musim hujan pun lebih asyik. Dengan telanjang dada terus saja bermain hingga tubuh bahkan wajah pun penuh lumpur dengan bau yang khas. Asyiknya lagi selepas main tambak ikan milik desa menjadi kolam renang gratisan. Setiba di rumah sudah pasti muka masam dan sedikit oceh ayah bunda jadi buah manis yang harus dirasakan. Ya, besok-besok juga diulangi lagi, tidak ada rasa kapok atau bersalah bagi anak-anak kampung hal itu menjadi lumrah.

Gelak tawa sesekali mewarnai suasana. Kalau ada teman yang tersungkur dan wajahnya penuh lumpur sudah pasti jadi bahan tertawaan. Belum lagi jika tersungkur persis di dekat tumpukan kotoran kerbau, hmmm akan menjadi tawa yang sangat menggelikan. Bagi anak-anak kampung tak pernah terpikir mainan yang mahal asal mengasyikan sudah cukup untuk melepas kejenuhan.

Ilustrasi anak bermain dipinggir sawah


 


Kamis, 02 Desember 2021

Asesmen Nasional di SDN Sumberjaya 05

SD Negeri Sumberjaya 05

Surmanto Adam 

Bekasi, 25 November 2021

Paradigma Asesmen Nasional 2021

Asesmen Nasional tahun 2021 telah terlaksana secara baik. SDN Sumberjaya 05 adalah sekolah yang melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara full online. Dalam menghadapi kegiatan Asesmen Nasional SD Negeri Sumberjaya 05 yang dipimpin oleh Bapak UCI SANUSI, S.Pd., MM. tentu sudah melalui berbagai tahap. 

Tahapan yang dilakukan mulai dari persiapan inprastruktur, pengadaan perangkat yang memadai, penambahan kekuatan jaringan internet hingga 100 MBPS, dan hal-hal lain yang dapat menunjang terselenggaranya kegiatan Asesmen Nasional secara baik. 


Dalam melaksanakan Asesmen Nasional pada SD Negeri Sumberjaya 05, Kepala sekolah selalu menyampaikan hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di lingkungan SD Negeri Sumberjaya 05.

Kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang berada di lingkungan SD Negeri Sumberjaya 05 beliau menghimbau agar tenaga kependidikan (guru) berperan aktif untuk mengikuti Bimbingan Teknik (BIMTEK) Seri 

Peninjauan kesiapan ANBK oleh Korwas SD
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan Nasional melalui Portal guru belajar yang dapat diakses melalui akun SIMPKB  atau melalui seminar dan workshof yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kab. Bekasi serta bimtek mandiri yang dilaksanakan Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Tambun Selatan.

Tujuan AN Bagi SD Negeri Sumberjaya 05

Asesmen ini  dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, sehingga bisa meningkatkan hasil belajar  murid secara utuh. Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional memberikan perbedaan yang sangat mendasar dengan Ujian Nasional (UN) karena Asesmen Nasional terfokus pada upaya perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan setiap satuan pendidikan. 

"Dengan mengikuti Asesmen Nasional diharapkan SD Negeri Sumberjaya 05 mampu melakukan perubahan secara bertahap yang mengarah pada perbaikan pengelolaan pembelajaran disetiap jenjang kelas.  Perbaikan tersebut dapat berupa perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penggunaan media pembelajaran maupun metode belajar yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di SD Negeri Sumberjaya 05" (Uci Sanusi, S.Pd.,MM.)

Lokasi yang berlokasi di Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kab. Bekasi merupakan pesrta Asesmen Nasional yang terdaftar dalam Dapodik dan memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 20218549 yang valid. SD Negeri Sumberjaya 05 merupakan sekolah yang memiliki jumlah murid 1569 orang terdiri dari 799 murid laki-laki dan 770 orang murid perempuan dengan jumlah pendidik dan tenaga pendidikan  64 orang, maka  tidak mengherankan jika sampai tahun 2021 ini masih merupakan sekolah dasar  yang memiliki jumlah murid terbesar se- Indonesia.

SD Negeri Sumberjaya 05 melaksanakan Asesmen Nasional pada tahun 2021 karena telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas berdasarkan penetapan pemerintah, pada periode waktu gladi bersih dan pelaksanaan Asesmen Nasional sesuai dengan jadwal pelaksanaan Asesmen Nasional.

Survei lingkungan belajar oleh Kepala sekolah
Lingkup Peserta Asesmen Nasional SD Negeri Sumberjaya 05 

Kepala sekolah , Uci Sanusi, S.Pd., MM. Dalam hal ini  melaksanakan survei ligkungan belajar. 

Peserta didik yang terpilih sebagai sampel dari tiap-tiap kelas sebagaimana terlampi (POS) dalam Petunjuk Operasional Standar ANBK. Peserta didik mengikuti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan 


Survei Lingkungan Belajar bagi Seluruh Pendidik yang berjumlah 55 orang dilaksanakan pada tanggal 18-20 November 2021.

Pengarahan oleh Bapak Uci Sanusi, S.Pd.,MM.
Pelaksanaan Asesmen Nasional pada SD Negeri Sumberjaya 05 merupakan bentuk tanggung jawab satuan pendidikan terhadap kebijakan Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional sebagai upaya mendukung perubahan iklim pendidikan secara nasional. Pelaksana Asesmen Nasional Berbasis Komputer pada SDN Sumberjaya 05 dibentuk oleh Kepala SD Negeri Sumberjaya 05 Bapak Uci Sanusi, S.Pd.,MM. 


Anggaran Kegiatan Asesmen Nasional

Anggaran pelaksanaan Asesmen Nasional meliputi biaya persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut di tingkat SD Negeri Sumberjaya 05 dianggarkan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP).  

Agenda Kegiatan Pelaksanaan Asesmen Nasional SD Negeri Sumberjaya 05

No

Hari

Tanggal

Kegiatan

1

Jum’at - Minggu

20 – 22 Agustus 2021

Sinkronisasi Simulasi AN Gelombang I

2

Senin – Kamis

23 – 26 Agustus 2021

Simulasi AN Gelombang I

3

Jum’at - Minggu

27 – 29 Agustus 2021

Sinkronisasi Simulasi AN Gelombang II

4

Senin – Selasa

30 – 31 Agustus 2021

Simulasi AN Gelombang II

5

Rabu - Kamis

1 – 2 September 2021

Simulasi AN Gelombang II

17

Senin, Selasa, Kamis, Jum’at

18, 19, 21, 22 Oktober 2021

Simulasi Jenjang SD/MI/Paket A

18

Sabtu – Minggu

23 – 24 Oktober 2021

Sinkronisasi Gladi Bersih AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang I

19

Senin – Kamis

25 – 28 Oktober 2021

Gladi Bersih AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang I

20

Jum’at – Minggu

29 – 31 Oktober 2021

Sinkronisasi Gladi Bersih AN SDN Sumberjaya 05 (Gelombang II)

21

Senin – Kamis

1 – 4 November 2021

Gladi Bersih AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang II

22

Jum’at – Minggu

5 – 7 November 2021

Sinkronisasi AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang I

No

Hari

Tanggal

Kegiatan

23

Senin – Kamis

8 – 11 November 2021

Pelaksanaan AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang I

24

Jum’at – Minggu

20   – 23 November 2021

Sinkronisasi AN Jenjang SD/MI/Paket A Gelombang II

25

Senin – Selasa

24 – 25 November 2021

Pelaksanaan AN SDN Sumberjaya 05 (Gelombang II)

             Jadwal Gladibersih AN pada SD Negeri Sumberjaya 05 (Gelombang II)

Hari/Tanggal

Waktu

Jenis Asesmen

Pelaksanaan

Senin – Kamis, 15 – 18  November 2021

08.00 – 10.35

Latihan (60 menit) Literasi Membaca  (75 menit) Survei Karakter (20 menit)

Hari ke-1

13.00 – 15.35

08.00 – 10.00

Latihan (25 menit) Numerasi (75 menit) Survei Lingkungan Belajar (20 menit)

Hari ke-2

13.00 – 15.00


Dalam proses pelaksanaan kegiatan Asesmen Nasional di SD Negeri Sumberjaya 05 pun tidak terlepas dari beberapa kendala. Kendala itu meliputi lambatnya koneksi jaringan internet dari pusat pada sesi latihan pertama dan kedua sehingga pelaksanaan latihan tidak dapat berjalan tepat waktu.

Pada pelaksanaan gladi bersih pelaksanaan Asesmen Nasional di SD Negeri Sumberjaya 05 pun mengalami kendala yang sama sehingga terjadi proses loding yang cukup lama. Berbeda dengan kegiatan uji boba dan gladi bersih, Alhamdulillah pada sesi pelaksanaan Asesmen Nasional tahun 2021 tidak mengalami kendala dan siswa dapat melaksanakan kegiatanAsesmen Nasional dengan tepat pada waktunya.

 Penutup


Penyerahan tanda terima kasih begi siswa peserta ANBK 
Asesmen Nasional merupakan upaya pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer).

Asesmen Nasional tidak menentukan aspek kognitif siswa namun lebih pada penilaian pada mutu penyelenggaraan pendidikan sekolah. Mutu satuan pendidikan tersebut dapat terlihat dari hasil belajar siswa secara mendasar seperti literasi, numerasi dan karakter serta kualitas sebuah proses belajar mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

SD Negeri Sumberjaya 05 merupakan salah satu peserta Asesmen Nasional berupaya untuk mendukung pelaksanaan ANBK guna mensukseskan program pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Untuk menunjang pelaksanaan ANBK SDN Sumberjaya 05 telah melakukan berbagai persiapan baik secara materi dan non materi. Persiapan dan kesiapan pelaksanan ANBK pada SDN Sumberjaya 05 disusun pada POS ANBK ini.

Pada akhirnya kami mengharapkan dukungan, saran dan kritik yang bersifat konstruktif guna mensukseskan pelaksanaan ANBK di SD Negeri Sumberjaya 05 sebagai evaluasi untuk perbaikan pelaksanaan ANBK selanjutnya.  

Poto bersama usai kegiatan Asesmen Nasional tahun2021

Pengawas, guru dan peserta usai kegiatan ANBK hari kedua

Bapak Uci Sanusi, S.Pd.,MM. bersama panitia inti ANBK Sekolah


Doa bersama oleh Bapak Uci Sanusi, S.Pd.,MM.

Jumat, 09 April 2021

TAK CUKUP WAKTU

Kamis, 8 April 2021


"Pak Adam ya", sedikit terkejut saat aku mengdengar suara seorang perempuan dari belakangku. Segera saja aku membalikan badan dan ya memang ia seorang ibu guru yang memiliki tubuh gemuk.

"Benar bu, saya Adam!" aku menjawab sapanya itu. "Bapak masih kenal saya?" lanjutnya bertanya. Sejenak aku terdiam sedikit berpikir untuk mengingat kembali siapa sih sosok yang ada dihadapanku ini. "Masa bapak lupa, saya bu Yenti yang dulu sering daftarkan anak TK ke sekolah Anggrek!" (kini SDN Setiamekar 02).

"Ooo... iya benar, saya ingat sekarang!" jelas aku mengenal beliau sosok ibu guru TK yang ramah dan selalu rajin membantu mengantar orang tua bagaimana mendaftarkan anak-anaknya masuk sekolah dasar. Namun jujur saja aku sedikit kaget sebab perawakan beliau sudah berbeda, badannya sudah semakin gemuk.

Obrolan kami berlanjut pada cerita tentang mengapa kami berdua bisa bertemu di sebuah sekolah yang besar (maksudnya jumlah murid yang mencapai dua ribu dan guru 62 orang) SDN Sumberjaya 05.

Kisah itu terjadi di tahun 2015 saat aku baru mutasi dari sekolah lama. Namun kini beliau telah dipindah tugaskan, tepatnya sejak bulan Januari 2021. Karena alasan usia dan beban tubuh yang sulit melakukan perjalanan jauh untuk mengajar, bahkan sudah beberapa kali beliau jatuh dari motor dan beliau harus merawat suami yang sudah sakit-sakitan itulah memilih untuk mutasi ke sekolah terdekat tepatnya di SDN Mekarsari 03 Tambun Selatan.


Lain lagi dengan Ibu Leni Wasara. Beliau sosok guru yang juga memiliki dedikasi tinggi juga berintegritas. Usianya masih tergolong muda dan beliau merupakan kelahiran Aceh. Menikah dengan seorang laki-laki asli Betawi (Bekasi Kota) yang aku kenal namanya Hidayat.

Aku dan Ibu Leni sebenarnya satu angkatan pada pengangkatan CPNS hingga menjadi PNS. Di sekolah itu kami berempat selalu melakukan komunikasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan kedinasan, sebab kami merasakan senasib sepenanggungan. 

Setiap hari beliau mengajar diantar suami yang memang bekerja dibidang tanah dan properti. Jarak yang ditempuh memang sangat jauh karena memang berbeda kota. Hal ini yang menyebabkan beliau memutuskan untuk mutasi ke sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya.

Dua sosok guru ini memang sudah sangat melekat dan bahkan laksana keluarga sendiri. Melepaskannya untuk bertugas di tempat lain sungguh sangat berat bagi kami. Sebab dengan alasan yang sama kami sudah kehilangan guru-guru hebat, seperti Ibu Siti Masitoh yang pindah ke Cirebon dan Ibu Maria Ulfah yang bertugas di Purwakarta. Mereka bernar-benar guru yang telah teruji dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Dari semua itu bagi kami terasa kurang untuk saling berdiskusi dan bertukar pikiran. Ya, memang rasanya sangat berat namun kami sangat yakin semua telah ditakdirkan sebagaimana yang telah digariskan Sang Pemilik Alam.


Waktu memang tidak cukup untuk saling berbagi, namun waktu pula yang telah mencukupkan segala harapan.  Hingga pada akhirnya kami berharap akan hadirnya waktu untuk kembali bertemu.

Selamat jalan sahabat dan selamat bertugas di tempat yang baru. Semangat kalian adalah cahaya bagi murid-muridmu kelak.


Oleh : Surmanto Adam

Kamis, 19 November 2020

Menilik Kisah Inspiratif Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd.

Oleh Surmanto Adam

Alihkan Fokus

Sebagian orang cukup puas dengan apa yang sudah diraihnya, meski itu keburukan sekalipun. “Ah. saya sih terima saja lah, toh sudah nasib saya kok begini!” atau “Sudah terima saja, toh memang sudah nasibmu begitu!” dan masih ada banyak ungkapan yang menunjukan kepasrahan tanpa melalukan perbaikan sedikitpun. Jika ini dibiarkan tentu akan kurang baik bagi dirinya bahkan bisa saja penyakit ini menjamur pada orang lain.

Nasib sering kali dikonotasikan pada sebuah keburukan, kegagalan atau bentuk negative dan kesialan yang telah diusahakan. Artinya ketika seseorang sudah melakukan usaha namun kurang mendapat hasil yang diinginkan. Contoh, “Sudah nasibmu gagal menikah dengan si Fulan!” 

Sementara takdir sesuatu yang tidak dapat diterka atau direncanakan sama sekali karena itu rencana Tuhan. Jadi kalau dilihat konsep ini seakan nasib cenderung pada kegagalan sedang takdir cenderung pada kebahagiaan.  Bahasa takdir cenderung lebih halus dibanding nasib, namun tidak jarang pula orang kecewa dianggapnya takdir. Misal saat masih muda memiliki cita-cita menjadi seorang dokter namun saat dewasa ia menjadi seorang guru, lantas yang dikatakannya “Memang sudah takdir saya menjadi guru”. Dalam konteks ini maka takdir menjadi bentuk ungkapan kepasrahan.

Sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi, setiap menusia yang lahir sudah ditentukan rizki, jodoh dan kematiannya. ini yang disebut dengan takdir azali. Pada prinsipnya kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang terjadi. Usaha dan kerja keras dengan diiringi doa adalah suatu keharusan. Doa, dan tetap tawakal atas kehendak Allah menjadi sarana motivasi untuk meraih kesuksesan.

Sekedar berbagi pengalaman selepas tahun 2008 saya orang yang sering mendengar tidak akan ada pengangkatan CPNS, bahkan ditawari untuk memberi sesuatu agar menjadi CPNS pun saya pernah. Namun semua dapat saya jawab di tahun 2014 lulusnya saya dari tes CPNS bahkan kesuksesan lain mengiringi karier saya menjadi peserta Pra Jabatan terbaik satu dan lulus ujian PLPG. Maka berpikir fokus pada apa yang ingin diraih hingga dan yakinlah dengan apa yang akan diharapkan.

Bergabung dalam satu komunitas positif merupakan salah satu bentuk pengembangan diri dan mengeksplore kompetensi kita. Komunitas tersebut bisa saja seperti WhatsApp Grup Belajar Menulis atau grup lain yang mampu membuat kita termotivasi untuk melakukan perubahan positif. Setiap kita yang bergabung disini punya harapan yang ingin dicapai. Dan harapan itu tentu berbeda-beda tergantung untuk apa kita mengikuti sebuah grup kreatif dan edukatif tersebut. Bahkan semua itu tergantung seberapa besar ekspetasi yang dimiliki seseorang.

Mengubah Ekspektasi Menjadi Prestasi

Mengutip perkataan Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd. “Ekspektasi tak seindah kenyataan, tidak selalu sama dengan realita”, begitu beliau menuturkan. Kondisi tersebut kemudian menjadi inspirasi beliau sehingga dapat menuliskan buku ke-2 yang diterbitkan pada tahun 2019.

Ya, betul dengan apa yang disampaikan bahwa dalam hal menulis, harapan terbesar kita adalah mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah paragraf menarik yang terus berangkai menjadi bab demi bab hingga akhirnya menjadi sebuah buku. Berikut profil singkat beliau: 

Sekilas, menulis merupakan hal yang sangat mudah. Logikanya bukankah kita sudah sering menulis sejak kecil? Tutur beliau. 

Beliau menyampaikan, ketika kemampuan menulis tersebut disandingkan dengan ekspektasi sebuah karya yang bernilai bagi orang lain muncullah masalah besar, diantaranya :

1. Bagaimana memulai sebuah tulisan?
2. Apa ide / topik yang harus kita tulis?
3. Apakah tulisan saya menarik?,

Buku Karya  Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd.
Butuh proses untuk berjuang. Tentu banyak hambatan yang mengiringi baik datang dalam diri sendiri maupun dari lingkungan kita. Beliau menyampaikan bahwa sebenarnya, tantangan menulis terbesar itu ada pada diri kita sendiri. Yaitu mood dan kemauan alias niat. Oleh karena itu untuk mengubah ekspektasi menjadi prestasi kita harus berubah. 

Dua hal penting yang harus kita ubah, yaitu mindset dan passion. Mindset adalah cara pikir tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Sementara passion adalah sesuatu yang membuat kita tidak pernah merasa bosan. Kedua hal ini di bahas secara detail dalam buku beliau yang ketiga, hasil kolaborasi bersama Prof. Eko Indrajit di terima dan diterbitkan oleh Penerbit Andi.

Beliau berjuang membangun tekad dan keyakinan yang kuat untuk mencapai realitas. 
Terkadang beliau juga harus nekat mengambil keputusan yang jika dipikir dengan akal sehat pencapaiannya sangat mustahil. Beliau selalu berusaha konsisten terhadap ekspektasi yang sudah susah payah  beliau bangun. Pantang mundur jika kaki sudah melangkah. 

Berbagi Pengalaman

Beliau berbagi cerita, saat menerima tantangan Prof. Eko untuk menulis buku dalam seminggu, ada sejuta keraguan yang menyelimuti hati dan pikiran beliau.  Berbagai pemikiran negatif menghantui, namun berkat kenekatan, dibarengi niat, tekad, serta konsistensi yang kuat akhirnya ekspektasi beliau berubah menjadi sebuah prestasi. 

Saat Pak Joko mengumumkan bahwa tulisan beliau lolos tanpa revisi, beliau seolah tak percaya.Tidak pernah menyangka bahwa tulisannya yang menurut penilaian beliau hanyalah tulisan biasa saja ternyata memiliki takdir luar biasa.

Dari pengalaman ini beliau belajar beberapa hal dalam menulis:

“Tulislah apa yang ingin kita tulis. Menulislah apa adanya, tanpa beban, dan tekanan”. 

“Jadikan menulis sebagai suatu kebutuhan. Menulislah hingga tuntas, jangan memikirkan editing”. “Menulis jangan terlalu lama!” 
“Jangan memikirkan baik buruknya tulisan kita, karena yang akan menilai adalah pembaca”

Kendala Saat Menulis

Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd. menyampaikan: Biasanya, kendala di awal kita menulis adalah bingung mencari ide. Tidak tahu apa yang akan kita tulis. Untuk mengatasinya, marilah kita mulai menuliskan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Mis: tentang hobi memasak, kegiatan sehari-hari, atau tingkah lucu anak-anak kita. Tuliskan apa saja yang terlintas dalam pikiran. tidak perlu kita memikirkan tata bahasa, ejaan dan lain ssebagainya. Setiap kalimat yang terlintas segera ditulis. 

Beliau biasanya menulis di hand phone. kadang saat tidak hand phone pegang ,  menuliskan di benda apa saja yang beliau temui. Pernah beliau nulisnya di telapak tangan, pernah juga di paha.

Hal yang paling sulit untuk memenuhi ekspektasi menulis adalah ketika kita tidak punya hobi menulis. Kata orang hanya "Iseng-iseng" atau ikut-ikutan. Tidak masalah, jika kita tidak memiliki hobi, bukankah rasa iseng jika terus dilatih bisa menjadi suatu keterampilan?

Beliau menyampaikan kalau beliau termasuk orang yang menulis tergantung mood. Itu sangat berat beliau rasakan ketika menerima tantangan Prof. Eko.  Rasanya bulan dan matahari berpindah tempat. Disaat seperti itulah beliau menguatkan tekad dan niat untuk mencapai realitas. Jadi, menulis itu adalah sebuah perjuangan untuk melawan semua tantangan yang menggoyahkan niat. Mantap....

Tuntas menjadi hal yang harus diperhatikan dalam menulis Menulislah hingga tuntas. Jangan sering menengok halaman yang sudah kita tulis, karena itu merupakan salah satu godaan yang membuat kita berpikir 1.000 kali tentang apa yang sudah kita tulis. kita akan berpikir untuk edit dan edit lagi. akhirnya tulisan kita tidak tuntas.

Penutup 

Sebagai kesimpulan beliau menyampaikan : Menulis merupakan suatu tantangan antara harapan dan kenyataan. Ekspektasi dalam menulis harus terus kita perjuangkan dengan niat, tekad, nekad dan konsisten. Realitas berupa prestasi adalah buah dari perjuangan. Maka berjuanglah menuntaskan karyamu, agar jejak yang ditinggal bermanfaat bagi generasi setelah kita. 

Salam Literasi!

 

 Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd.

 

RELEVANSI In House Training (IHT) KURIKULUM MERDEKA TERHADAP PENGEMBANGAN KETERAMPILAN GURU

Oleh S. Adam Abu Tsaqif Bekasi, 3 Agustus 2023           Cikal bakal Kurikulum Merdeka diawali dengan adanya Kurikulum Darurat sebagai upa...