Sabtu, 31 Oktober 2020

Cikgu Tere Bukan Guru Biasa


Resume_12
Oleh Surmanto Adam

Mengenal Cikgu Tere

Beberapa hari ini, saya mengamati gaya menulis Bapak dan Ibu. Banyak diantaranya yang sudah sangat baik dalam menulis. Alurnya jelas dan kalimat-kalimatnya rapi sehingga paragraf pun menjadi padu dan akhirnya resume pun menjadi enak untuk dibaca karena isinya mengalir. Begitulah setidaknya ungkapan motivasi yang saya dapat dari seorang Cikgu Tere. Seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas  di bidang literasi khususnya pada dunia menulis.

Malam ini Jumat, 30 Oktober 2020 kelas menulis online menghadirkan sosok bersahaja dengan sarat pengalaman dan prestasi dibidangnya. Om Jay memperkenalkan kami dengan Ibu Theresia Sri Rahayu S.Pd.SD. yang akrab disapa Cikgu Tere dipandu Ibu Aam Nurhasanah. Bu Aam sendiri sebenarnya dalam perjalanan menuju Jasinga. Ditengah dinginnya malam beliau tetap setia memandu kelas belajar menulis online melalui WhatsApp grup. Saya berkeyakinan mereka semua sangat konsen membimbing para penulis pemula. Sungguh hal ini menjadi satu kabahagiaan bagi kami semua.

Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD. bukanlah sosok baru di dunia literasi. Beliau lebih kondang disebut Cikgu Tere seperti apa yang terlihat pada blog beliau https://www.cikgutere.com. Bahkan jika kita membuka blog beliau ada satu kalimat motivasi yang sarat makna yaitu "Lebih baik bergerak dalam kegelapan demi mendapatkan seberkas cahaya daripada diam dalam terang". Sepintas kita akan memahami bahwa beliau seorang yang senang mencari sesuatu yang baru dan memberikannya pada setiap orang yang memerlukan.

"Bukan Guru Biasa" merupakan tema yang sengaja beliau angkat pada pertemuan malam ini. Bukan tanpa alasan beliau mengangkat tema ini ketika diminta menjadi narasumber oleh pengasuh kelas belajar menulis gelombang 16. Bagi beliau peserta belajar menulis gelombang 16 merupakan guru-guru hebat dan luar biasa. Bahkan layak menyandang predikat, "Bukan Guru Biasa".

Sejak pertengahan Maret 2020 hingga kini kita masih dalam masa pandemi. Sebagai guru tentu kita dipaksa untuk beradaptasi dengan segala bentuk perubahan. Dalam segala perubahan pasti akan mengalami situasi yang kurang nyaman. Akibat dari ketidakbiasaan tersebut.

Tidak sedikit guru memilih untuk menyerah pada keadaan, dibandingkan dengan situasi yang baru atau bahkan keluar dari situasi yang dianggapnya tidak nyaman. Jika demikian maka wajar situasi pandemi saat ini dirasakan sebagai sebuah masalah bahkan musibah.

Namun tentu kita tidak dapat pungkiri bahwa tidak sedikit pula, guru menemukan berkah dibalik musibah. Kita dapat ambil contoh, sebelum masa pandemi guru cenderung kurang mengerti pembelajaran daring berbasis teknologi, kini mereka mahir melaksanakan pembelajaran secara online. Bahkan mereka mampu menularkan pengalaman pembelajaran daring tersebut kepada teman guru yang lain. Kini tidak sedikit diantara mereka mampu menulis buku dan meraih keberkahan dari karyanya tersebut.

Semua Berproses

Pada dasarnya setiap orang memiliki kendala yang sama saat memasuki dunia menulis. Hal ini pun pernah dialami Cikgu Tere, hingga pada akhirnya beliau bergabung pada grup belajar menulis gelombang 4, satu grup dengan Pak Brian.

Banyak pengetahuan yang didapati ketika mengikuti grup belajar menulis gelombang 4, tentu terkait dengan dunia menulis yang saat ini digelutinya. Mulai dari menulis resume sebagai rangkuman materi belajar, sampai menulis artikel untuk lomba, bahkan menulis bacaan untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Dan menulis buku untuk  berbagai kepentingan.

Banyak proses yang harus dilalui untuk dapat menulis artikel dan bahkan buku. Jam terbang, konsistensi, dan kesabaran sangat diperlukan. Beliau memaparkan senangnya jika menerima tantangan seperti menulis resume tercepat yang diberikan Bunda Lilis Sutikno dan menulis buku dalam waktu seminggu bersama Prof. Richardus Eko Indrajit dan Penerbit Andi.

Jam terbang bagi penulis adalah hal yang sangat penting. Terutama untuk mencegah terjadinya writterblocks. Bagi para penulis pemula hal ini sering terjadi. Apa lagi bagi yang menulis mengandalkan mood atau suasana hati. Menulis harus dilakukan di mana saja, kapan saja dan bagaimana saja caranya. Ini dilakukan agar jam terbang selalu meningkat.

Dalam menulis buku yang beliau rangkum berbagi pengalaman dengan kata IDOLA yaitu :
I  =  Indentifikasi topik menarik
D = Daftar semua judul luarbiasa
O = Outline terperinci akan membantu
L = Lanjut menulis isi bab
A = Atur layout sesuai permintaan penerbit

Cikgu Tere pun mengungkapkan bahwa keluarga, sahabat heran dengan kesibukan beliau, Tidak jarang beliau menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis. Bahkan sampai lembur, namun semua itu sudah menjadi hal yang biasa.

Ketertarikan Dalam Dunia Menulis

Empat alasan mengapa beliau tertarik dalam kegiatan belajar menulis yaitu :
1) Merupakan hobi yang digelutinya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga bahkan sudah menulis cerita dibuku sederhana yang dikliping meski tidak diterbitkan.
2) Mengupgrade skill menulis. Dengan bergabung bersama penulis lain membuat beliau terus termotivasi untuk belajar jurus-jurus baru dalam menulis.
3) Sebagai sarana mengekspresikan diri dalam menulis dan menuangkan ide atau pemikiran yang sangat produktif, Dengan demikian kita bebas menjadi siapa saja dan menggali imajinasi seluas-luasnya.
4) Sebagai jembatan meraih prestasi. Dalam hal ini beliau telah meraih prestasi seperti : blogger inspiratif, penulis cerita mini terbaik, penulis beberapa judul buku (Indie dan Mayor), Tim reviewer dan uji Keterbacaan Modul Literasi dan Numerasi, Tim pengembang konten artikel di Komunitas Belajar Guru Penggerak Kemdikbud. Ini semua merupakan capaian yang terbesar selama hidupnya, terlebih setelah beliau menjadi seorang guru. Terutama di masa pandemi saat ini.

Menulis di blog membuat Cikgu Tere semakin terasah keterampilannya. Hingga pada akhirnya tanggal 1 Oktober 2020 beliau mendapat apresiasi dari Direktorat Jendral Pendidikan Sekolah Dasar Kemdikbud sebagai Kreator Konten Artikel Terbaik dalam Lomba Pancasila Bakti 2020. Hadiah yang didapat pun tidak tanggung-tanggung 10 juta rupiah dalam bentuk media pembelajaran. Sungguh hal yang tidak terbayangkan hanya dengan menulis 3 - 4 halaman dihargai sebesar itu.

Membangun Branding

"Kita harus menulis setiap hari karena akan mendatangkan keajaiban" pesan Om Jay inilah yang selalu menjadi pemicu semangat Cikgu Tere. Bukan omong kosong sebab beliau telah merasakannya sendiri sejauh kita mampu konsisten dalam melakukannya. Beberapa kali beliau lolos seleksi lomba tingkat nasional slah satunya adanya jejak digital melalui tulisan saya melalui media sosial dan blog.

Sudah menjadi hal yang umum setiap penulis besar pasti mengalami proses sebagai penulis kecil. Yang terpenting mampu menjaga konsistensi dalam menulis baik di bog maupun di media sosial. Tidak kalah penting, bersikaplah terbuka dan positif menerima kritik dari para pembaca. Maka untuk memantaskan diri untuk menjadi bagian "Bukan Guru Biasa" hendaknya selalu melaksanakan 3B yaitu: Belajar, Berkarya dan Berbagi. Carilah ilmu sebanyak mungkin, tuangkan lewat karya nyata dan berbagilah karya tersebut agar mampu mengispirasi orang lain.

Sama halnya dengan penulis lain, Cikgu Tere pun pernah merasakan kendala dalam menulis. Merasakan tidak dapat menyelesaikan karyanya saat hendak mengikuti lomba menulis karena lewat dari waktu yang ditentukan. Beberapa naskah belum bisa terbit. hal yang harus dilakukan yaitu membuat skala prioritas dan menginventarisir serta lebih diperkaya lagi. 

Menulis di blog sebenarnya lebih menunjukan identitas diri. Menulis artikel pada blog merupakan bentuk idealis bagi seorang Cikgu Tere sebab personal branding beliau Bukan Guru Biasa. Terkait membangun branding beliau membuat personal blog, tips menulis di blog (termasuk cara menarik ratusan bahkan ribuan viewer) dari satu artikel. Dan pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran.

Sebagai penutup resume kali ini, jadilah "Bukan Guru Biasa", dengan mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki. Selalu konsisten dalam menulis jika menginginkan adanya keajaiban dari apa yang kita tulis. Setiap penulis besar tentu melalui proses panjang yang dilalui sebagai penulis pemula. Buatlah skala prioritas ketika kita hendak menulis dan berpikir positif  terhadap kritik karena itu akan menjadikan kita besar. Tak ada gading yang tak retak, ungkapan ini layak kita tanamkan pada diri kita agar selalu ingat bahwa kita adalah pembelajar.   

 



 

 


28 komentar:

  1. Kagum sy denga pemaparan resumenya.... Diksi nya sangat cantik.... Semangat

    BalasHapus
  2. IDOLA saya suka.
    Terimakasih untuk tulisan yg hebat ini

    BalasHapus
  3. Semakin keren tulisannya bapak. Mengalir seperti air enak dibaca alurnya

    BalasHapus
  4. Semakin mantab tulisannya, enak dibaca, mengalir seperti air

    BalasHapus
  5. Bagus sekali resumenya, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  6. Resum yang bagus pak, renyah dan enak juga mudah di pahami

    BalasHapus
  7. Saya bingung harus berkomentaf apa. Semangat yah pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Didi ni yaa, kritik abis doong, misal tulisan ga bisa terbaca atau apa gitu pak.wkwwk

      Hapus
  8. Baarokallah untuk Bapak sukses selalu..

    BalasHapus
  9. Resume yang mantap, Abi. Sekadar masukan sebagai modal swasunting ketika akan menjadikan resume sebagai buku. Di antaranya, yaitu penulisan kata asing dan inkonsistensi penulisan Bunda Tere dan Cikgu Tere. Menurut saya pribadi akan lebih enak dibaca jika konsisten dalam penulisan. Tabik. 🙏

    BalasHapus
  10. Rapi tatanan kata dan kalimat.Pemilihan kata juga mantap 👍 Rangkaian kalimat mudah dipahami 👋

    BalasHapus
  11. Resumenya enak dibaca dan penataan artikelnya sangat rapi. Luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Cikgu Tere atas imunisasi semangatnya.

      Hapus
  12. Saya kira sedang membuka blog saya...eh ada pak Adam. Saya bisik-bisik aja... Bagus pak hehehe

    BalasHapus
  13. Tersusun rapi dan nyaris sempurna, saya g menukan yg kurang dri resume bpk. Top dah buat bpk

    BalasHapus

Menilik Kisah Inspiratif Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd.

  Ibu Jamila K. Baderan, M.Pd. Resume_17 Oleh Surmanto Adam Alihkan Fokus Sebagian orang cukup puas dengan apa yang sudah diraihnya, meski...