Sabtu, 17 Oktober 2020

Kekuatan Doa


Rasa Khawatir itu Telah Aku Titipkan

Oleh : Surmanto Adam
Senin, 24 Agustus 2020

Melawan Diagnosa Medis


Minggu, 15 Maret 2020 udara memang sedikit panas. Ya, lumayan gerah dan keringat mulai mengalir membasahi sebagian tubuh. Kipas angin sudah di angka tiga, namun tetap saja tidak mampu mengurangi hangatnya udara hari itu. Daun jendela rumahku sudah terbuka lebar namun mau bagaimana lagi angin di luar sana sepertinya enggan bermain di teriknya matahari. 

Tepat di ruang tamu aku melihat Dwi Syaraswati istriku sesekali meringis kesakitan. Ia nampak menahan rasa sakit yang begitu kuat di perutnya yang sudah sangat besar. Belum lagi pada kaki-kakinya yang ikut menambah rasa sakit dan bengkak. Terkadang ia menahan napas hanya untuk menahan rasa sakit yang sesekali datang. Seandainya aku mampu memindahkan sakitnya tentu aku akan menanggung sakit itu. Namun aku tidak mampu berbuat banyak. Yang dapat ku lakukan hanya mengusap kaki dan perut besarnya saja.

Sudah sembilan bulan lebih usia kehamilan istriku. Tanda demi tanda nampak pada intensitas rasa sakit yang datang sekitar  15 menit sekali. Si jabang bayi mulai tidak terlalu agresif bergerak, memang agak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Mungkin ini pertanda ia sudah ingin melihat terangnya dunia.

Selepas Asar aku antar istri ke bidan terdekat. Dengan motor metik tua istri dan Amiirah anak kedua ku bawa perlahan. Tiba di rumah bersalin  bersyukur antrian tidak banyak, jadi tidak menunggu terlalu lama. Istriku masuk sebuah kamar, namun tidak begitu lama ia keluar sambil menahan rasa sakitnya. "Abi, ayo kita ke rumah sakit terdekat dulu untuk cek tensi dan cek laboratorium". Tidak banyak bertanya segera saja kami beranjak pergi.

Di rumah sakit dekat sebuah pasar tradisional aku antar istri menuju laboratorium. Ada satu pasien yang sudah menunggu antrian. Duduk kami pada ruang tunggu dan tidak begitu lama giliran istriku masuk ruang laboratorium. Nampak petugas memeriksa tensi dan mengambil sampel darah. Uji klinik oleh tenaga medis mulai dilakukan. Kurang dari 25 menit hasilnya sudah dapat diketahui. 150/100 dan kategori protein tingkat 2. Dengan hasil ini menunjukkan istriku tidak bisa melahirkan secara normal.

Gundah dalam batinku mulai meningkat namun aku tetap berusaha tenang. Kami putuskan untuk kembali pulang dengan kekhawatiran yang mendalam dan terus menghantui. Namun tidak bagi istriku, ia nampak penuh keyakinan akan dapat melahirkan secara normal. Aku mulai sadar bahwa kekuatan hati akan mengantarkan pada apa yang diyakininya. Kembalinya kami hanya untuk mencoba menenangkan hati agar tidak semakin kalut. Berharap pada Allah semoga  ada perubahan beras setelah kami pulang.

Menjelang maghrib kembali kami ke rumah bersalin. Tiba waktu salat Kutinggalkan istri dan anakku  pergi ke masjid terdekat. Entah seberapa banyak dan penuh yakin aku memohon kemudahan bagi istriku tercinta. Sebab hanya doa yang akan menjawab segala kekhawatiran yang aku rasakan. Sekembalinya dari masjid kutanyakan apa yang telah disarankan. Dengan bukti hasil laboratorium tetap saja bidan memberi saran agar istriku harus diambil tindakan cesar. Namun aku bangga istriku tetap saja yakin akan dapat melahirkan secara normal.

Di tengah kerisauan teringat teman sejawat, Pak Ruhyat tinggal tidak jauh dari rumah bersalin. Aku coba menghubunginya untuk meminta bantuan kendaraan mobil sebab istriku harus segera mencari rumah sakit lain. Qodarallah beliau ada di rumahnya dan siap membantu. Segera saja ku pacu si metic tua hinga akhirnya tiba di rumahnya. Tidak banyak yang kami bicarakan dan segera saja istri dan anakku diantar sedang aku mengiringinya.

Bersyukur jalan tidak begitu macet hingga kami  sampai di sebuah rumah sakit swasta ternama. namun sayang tim medis di sana pun menyarankan ambil tindakan cesar. Beliau melihat hasil cek laboratorium. Namun tetap saja istriku berkeyakinan dapat melahirkan secara normal. "Segera cari rumah sakit lain bu, ini sudah larut malam khawatir nanti tidak dapat rumah sakit!" ujar petugas medis. 

Segera saja kami beranjak dari sana tanpa tahu kemana kami akan pergi. Sepanjang perjalanan mengantar istri, aku titipkan rasa khawatir pada Allah. Jika istriku saja mampu menghadapi ujian ini mengapa aku kurang yakin terhadap semangatnya. Ya, aku harus yakin istriku akan melahirkan normal. Keyakinan itu semakin kuat karena istriku begitu kuat.

Amiirah ku titipkan pada kakak iparku yang kebetulan sudah dihubungi dan kuminta  untuk menjemputnya. Aku menyusul teman yang membawa istriku mencari rumah sakit terdekat.  Tibalah kami pada sebuah rumah sakit. Istriku langsung masuk ruang IGD dengan diantar bidan rumah sakit. Bidan langsung mengambil tindakan bahkan melayani dengan sangat ramah. Sesekali bertanya pada istriku sambil memeriksa kembali tensi (tekanan darah) dan cek kadar protein.

Di tengah kegamangan akan hasil yang ku tunggu, aku tinggalkan istri untuk aku memohon pada Allah Sang Penentu Keputusan. Aku hanya tahu Allah pasti mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan hambanya sejauh hamba memohon dengan penuh keyakinan. Sekembali aku bermunazat benar saja tekanan darah normal dan protein istriku menunjukan tingkat satu itu artinya istriku dapat melahirkan secara normal.

Detik-detik Pembukaan Sembilan

Dengan hasil yang membuat kami tenang segera saja istruku diantar ke ruang bersalin lantai dua. Aku menyiapkan menyelesaikan administrasi rawat inap dan persalinan. Selesai mengurus semua administrasi aku beranjak menuju ruang bersalin. Diruang itu istriku sudah berbaring di atas ranjang persalinan. 

Waktu menunjukan pukul 24.00, rasa sakit sesekali datang. Aku hanya mampu memandang wajah istriku yang diliputi rasa sakit. Sesekali ia bergumam "Abi sakit bi!", mendengar rintihannya aku tidak mampu berbuat banyak, "Sabar cinta, banyaklah memohon pada Allah, dan berzikirlah semampu kita!". kataku menguatkan semangatnya. Sejujurnya rasa tegangku semakin waktu semakin bertambah. Aku tidak memiliki kekuatan apa pun, yang aku mampu hanya melafalkan kalimat-kalimat permohonan pada Allah Zat Yang Maha Menentukan.

Mataku menatap sebuah jam dinding di sudut ruang, jarumnya menunjukkan angka 12.30 WIB. Tidak terasa kini sudah pukul setengah satu, rasa sakit pada perut istriku pun semakin kencang. "Abi kok lama sih?", tanya istriku. Terkadang aku dimintanya menemui bidan jaga, tapi aku berpura-pura menurutinya dan ku katakan "Iya nanti dilihat katanya!", kataku hanya sekedar memberi ketenangan. 

"Abi antar Ummi ke toilet!" ucap istriku  "Hayu, tapi pelan-pelan (perlahan) saja!", kataku. Sungguh tidak tega aku melihat rasa sakit dengan tangan diinfus seperti ini. Aku menunggu persis di depan pintu toilet dengan sedikit kantuk yang sejak tadi ku lawan. Sesekali ku sandarkan kepalaku hanya untuk memberi rasa rileks. Namun semua usaha telah ku lakukan tetap saja otot dan pikiranku semakin kencang.

Duapuluh lima menit berselang pintu toilet pun terbuka, "Abi tolong bantu pegang kain ini!", sontak saja aku terperanjat melihat istri yang membersihkan cairan begitu banyak. Dalam benakku pun bertanya mungkinkah ini yang dimaksud ketuban entah apa lah namanya. Semakin kencang saja degub jantungku melihat apa yang nampak di kedua mataku ini.

Kuantar istri tercintaku menuju ranjang persalinan, "Abi, tolong panggilkan bidan dong!", lirih kudengar dari bibir istriku yang nampak  merintih menahan sakit. Segera saja aku keluar dari ruang persalinan. Kucari pintu menuju ruang bidan, setengah kalut aku mencari dimana pintunya sebab memang aku belum tahu. Untung saja ruangan itu tampak jelas karena hanya dibatasi dinding kaca. Seorang bidan muda menanyakan dari dalam, "Ada apa pak?", tanyanya, "Maaf Bu Bidan, istri saya nampaknya sudah mengeluarkan cairan!". Sejenak ia diam dan sambil merapikan beberapa alat persalinan. "Bapak tunggu saja ya di ruangan, nanti saya lihat!", ucapnya dengan ramah.

Sekembaliku dari ruang bidan istriku langsung menanyakan, "Mana abi bidannya?", sepertinya memang semakin sakit yang dirasakan. "Sabar ya Cin, nanti juga datang!", benar saja tak seberapa lama datang dua orang bidan dengan perlengkapan persalinan. "Bapak tolong beli pembalut besar ya, di depan rumah sakit ini ada mini market!", minta salah satu bidan padaku, "Baik sus!" kataku sambil melangkah pergi.

Masa Yang Menegangkan

Semua persiapan telah hampir rampung, perlengkapan medis pun sudah nampak disiapkan satu persatu. Dokter kandungan sudah datang dan memeriksa perkembangan istriku. Semakin sakit nampak dirasakan istriku. Aku hanya mampu memberikan semangat dan batin tak pernah kulepaskan dari bermunazat pada Allah. Aku telah menitipkan semua kegelisahan disetiap doa-doa dengan penuh pengharapan. 

Kesibukan bidan dan dokter mulai nampak, bersyukur lebih dari lima orang bidan membantu persalinan istriku. Jerit dan rintihan semakin keras saja, tersengal nafas istriku sesekali begitu berat. Keringat deras bercucuran membasahi kening. Para bidan memberikan semangat tak pernah henti-hentinya. Kuhadapi semua dengan sedikit tenang dan sesekali menyeka cucuran keringat istriku.

"Abi, ummi  tidak kuat lagi!", terdengar lirih di telingaku. "Ummi pasti kuat, abi temani di sini kok!". kataku memberikan semangat. "Wah, ibu hebat!", ucap beberapa bidan yang membantu persalinan, "Ayo bu sedikit lagi!", ucap bidan. Jujur saja aku tidak sanggup melihat  perasaan sakit istruku. Berkali-kali pula aku hanya mampu berdoa atas keselamatan bagi mereka orang yang ku cintai. Ini adalah kali kedua aku mendampingi istri dalam proses persalinan setelah Amiirah Ashma' Fikriyyah, itu pun sepuluh tahun silam. Anak pertamaku saja Abdul Harits Syahiir Muyassar yang tidak dapat aku dampingi kelahirannya, karena bidan melarang  tidak ingin mengganggu kerjaku ketika itu.

Agak sedikit kaget aku melihat anak ketigaku lahir dengan berat 4 kilogram dan panjang 52 centimeter. "Wah, ada monasnya!", ucap seorang bidan dengan nada senang telah mampu membantu persalinan istriku. "Tadi itu agak sulit keluar karena salah satu punggung bayi tidak dapat keluar sempurna, makanya agak sedikit dibantu!", ujar bidan yang lain. Dokter segera mengurus dan memeriksa si kecil dan seketika itu terdengar tangis yang keras dari anakku.

Bahagia yang tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata, aku hanya mampu mengucakkan rasa syukur kepada Allah Subhanallahu wata'ala. DIA-lah yang telah mengatur segala urusan manusia dan DIA-lah  mampu menyempurnakan apa yang dikehendaki. Kini aku merasa lebih bahagia saat Muhammad Tsaqif Asy-Syuja'i mengisi hari-hari keluarga ku di masa pandemi ini.

Kini tidak terasa usia Tsaqif (nama yang sering dipanggil tetangga) telah memasuki tujuh bulan belum lama ia mengalami demam tinggi. Rasa gelisa menghantui aku dan istri. Keadaan ini terjadi sekitar tiga hari, tidak ingin terjadi sebagaimana abangnya dulu harus rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah maka segera saja kularikan ke sebuah klinik yang biasa kami berobat saat mengalami kondisi kurang sehat. Benar saja Tsaqif mengalami gangguan pencernaan, mungkin karena sesekali ia diberi kerupuk. Syukurlah kini ia telah sehat kembali. Hari-hari menyenangkan tertata kembali.

Terima kasih istriku, terima kasih untuk semua yang telah menguatkan kondisi saat itu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. aamiin 




Pijar Lentera di Wanaraja

Kebahagiaan Om Jay




Oleh Surmanto Adam
Sabtu, 17 Oktober 2020

Entah berapa banyak suku kata yang harus tertumpahkan pada sehelai kertas putih. Atau seberapa panjang kalimat terindah yang  tertata untuk mengungkapkan rasa syukur bagi seorang Om Jay. Nikmat tidak sekedar ukuran banyaknya nilai harta yang diperoleh, namun segala sesuatu yang mampu mendekatkan kita pada kebesaran Maha Pemberi Kenikmatan. Sejatinya syukur itu adalah memanfaatkan kenikmatan sebagaimana kehendak pemberi nikmat.

Pak Wijaya Kusuma akrab dengan panggilan Om Jay merupakan sosok yang senantiasa menikmati apa saja yang Allah berikan pada dirinya. Bahkan beliau pun merasakan terhadap apa yang diterima oleh orang lain. Terlebih memiliki seorang cucu yang baru lahir di daerah Wanaraja  - Garut tentu suatu kebahagiaan tersendiri. Siapa pun berkeinginan kelak si jabang bayi laksana lentera  yang akan memberikan pijarnya untuk semua orang.

Harapan di pelupuk mata nampak tergambar jelas pada pada kalimat yang teruntai melalui chat WhatsApp grup yang diampunya. Sebuah poto sosok bayi mungil hadir sekedar berbagi kebahagian kepada sahabat penulis hebat. Respon bahagia pun datang silih berganti diiringi untaian doa-doa dan pengharapan dari anggota grup Belajar Menulis Gelombang 16. Ya, pijar lentera di Wanaraja memang menjadi kebahagian tersendiri bagi Om Jay dan keluarga besarnya.

Semoga bermanfaat dan kita mampu mengambil hikmah dari goresan kecil ini, aamiin.



Kamis, 15 Oktober 2020

Bu Kanjeng Motivator dan Inspirator

Namanya Sih Ibu Sri Sugiastuti



Oleh Surmanto Adam
Rabu, 14 Oktober 2020

Bukan kali pertama aku mendengar suara Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. Perkenalanku pada beliau bermula saat aku mengikuti pelatihan menulis yang digagas AISEI (Association for Internasional minded School Educator Indonesia) melalui WhatsApp Grup AISEI Writing Club. Kini suara itu aku dengar kembali pada kuliah online Belajar Menulis gelombang 16.

Lahir pada tanggal 8 April 1961 ini merasa terlambat aktif sebagai penulis, namun sesungguhnya menurut pandanganku tidak ada yang terlambat untuk melakukan perubahan besar.  Sejak usia 1 tahun beliau tinggal di Jakarta hingga tahun 1980 tepatnya hingga lulus SMA. Melanjutkan studi di UNS dan kembali ke Jakarta hingga tahun 1990 untuk mengajar. Besarnya rasa cinta pada keluarga memutuskan dirinya untuk hijrah ke Solo pada tahun 1990 sampai sekarang.

Menjelang usia setengah abad beliau melanjutkan studi S2 jurusan Pengkajian Bahasa Inggris sebagai linierisasi jurusan yang diambilnya sejak masa S1 UNS dulu. Pada masa itu pula beliau mulai aktif sebagai penulis. Tahun 2010  dua buku karyanya yaitu "SPM Ujian Nasional Bahasa Inggris untuk SMA" diterbitkan oleh Penerbit Erlangga dan buku antologi " Diary Ketika Buah Hati Sakit" dan meraih terbaik ketiga bersama Kompasioner tahun 2014. "25 Kompasioners Merawat Indonesia" dalam rangka hari Kartini serta "Indonesia Satu" yang diterbitkan Indie Peniti Media san masih banyak karya beliau yang tidak aku tulis pada kesempatan ini.



Beberapa buku karya Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd.

Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. adalah sosok ibu yang mampu membagi waktu secara apik. Beliau dikaruniai 4 orang anak dengan suami yang selalu mendukung apa yang dilakukan sejauh bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan orang banyak. Mungkin bagi kalangan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang beliau dapat dihubungi melalui surel astituanamudjono@gmail.com atau www.srisugiastutipln.com.  aktifitas beliau dapat juga dilihat melalui akun facebook Astutiana.M, @Astutiana.M. dan Instagram Astutianamudjono.

Mengawali pertemuan bersama beliau rasanya sudah merasa nyaman. Dengan apresiasi yang sangat memotivasi bagi peserta penulis pemula tentu seakan terhipnotis bahwa peserta sudah mahir dalam berkarya (menulis pada blog). Ya, begitulah beliau dan para motivator hebat lainnya selalu saja memberikan apresiasi lebih bagi kami. Dengan demikian tentu kami merasa termotivasi untuk menunjukkan bahwa kami bisa menjadi orang hebat.

Tidak banyak yang disampaikan oleh Ibu Kanjeng namun sangat memotivasi kami untuk mengikuti jejak beliau yang sudah lebih dahulu hebat. Disela perbincangan yang hangat beliau mengemukakan tentang Om Jay (Bapak Wijaya Kusuma) memanfaatkan media sosial untuk memfasilitasi para guru dari Aceh hinga Papua untuk belajar menulis bersama.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menjadi seorang penulis antara lain :
1. Banyak membaca, apa yang kita baca akan mempengaruhi gaya kita dalam menulis.
2. Mencoba menulis di komputer atau leptop pribadi, kita dapat menulis apa saja melalui media sosial   seperti Instagram, facebook, dan blog. Dengan sering menulis akan mengasah kemampuan kita dalam   menulis.
3. Mengirim tulisan ke media cetak atau penerbit
4. Teruslah menulis jika naskah anda ditolak atau sudah pernah diterbitkan, dengan semakin sering menulis akan mengembangkan kemampuan anda dalam melahirkankarya-karya.

Terkadang kita memiliki ide atau gagasan untuk dituangkan dalam sebuah karya tulisan, namun saat itu Kita tidak segera menuliskan ide atau gagasan tersebut. Dalam kondisi seperti ini tentu akan merugikan diri kita sendiri. Untuk menjawab dan mengatasi hal sepeti ini ada beberapa tips disiplin dalam menulis.
👉 Buat kerangka tulisan atau outline
👉 Buat targer/dead line
👉 Fokus menyelesaikan tulisan
👉 Reward dan punishment
👉 Memilih judul yang menarik
👉 Sesuaikan dengan tema tulisan
👉 Buat judul dengan kata yang mudah diingat
👉 Buat judul yang membuat orang penasaran

Dalam menentukan ide atau gagasan terkadang sulit, ada baiknya lakukan beberapa hal berikut ini :
1. Banyak membaca buku
2. Delam situasi lelahnya otak bekerja ada baiknya anda santai sejenak atau lakukan refreshing
3. Tulis apa yang dapat kita tulis
4. Mencari referensi dari berbagai media dan 
5. Tidak ada salahnya lakukan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi)

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mengirim naskah ke penerbit ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Siapkan naskah dengan rapih.
2. Pilih penerbit yang sesuai denganjenis naskah.
3. Perhatika tata cara penviriman naskah, misal apakah penerbit mengingikan dalam bentuk naskah cetak atau melalui email dan ketentuan lain yang diinginkan penerbit seperti ukuran dan margin.
4. Kirim naskah beserta sinopsisdan biodata penulis. 
(dikutip dari karya Ibu Aam Nurhasanah )

Berikut adalah  tips menulis dan cara menerbitkan buku menurut Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. atau Ibu Kanjeng.

1. Tips Menjadi Penulis. Banyak membaca. Penulis membutuhkan ide atau gagasan, dan ide atau gagasan itu banyak kita dapatkan dari membaca. Mencoba menulis. Tuliskan saja apa yang ingin ditulis, bahkan ketika kita tidak punya ide sama sekali kita pun bisa menulis cerita bahwa kita sedang tidak punya ide. 

2. Tips Disiplin Menulis. Buat kerangka tulisan. Hal ini perlu agar tulisan memiliki arah dan target. Buat target berupa ; Kapan  akan menyelesaikan tulisan. Jika perlu buat tabelnya berapa halaman per hari. Fokus pada target yang  dibuat, jangan tergoda oleh godaan-godaan yang membuat kita menunda menyelesaikan tulisan.

3. Tips Memilih Judul yang Menarik. Sesuaikan dengan tema tulisan. Sebelum membuat judul yang menarik, buatlah judul tersebut sesuai dengan tema tulisan, atau memilik konsep terhadap isi tulisan. Buat judul dengan kata yang mudah diingat. Judul haruslah mudah diingat. Buat orang penasaran. Karena Judul yang mampu membuat orang penasaran untuk membacanya biasanya cukup menarik orang untuk membeli buku tersebut.

4. Tips Mencari Ide. Bacalah sebanyak mungkin buku. Dengan membaca akan membantu menemukan ide. Lakukan juga refreshing dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi untuk merefresh otak dari rutinitas. Siapa tau  mendapatkan ide. Tulis apa yang bisa ditulis. Cari referensi dari berbagai media. Kita dapat mencari ide dari media, apalagi saat ini teknologi informasi sudah sedemikian pesatnya. kita dapat  mencari di internet.atau dapat menggunakan cara ATM (amati, tiru, modifikasi).

5. Tips Menulis Cepat. Pikirkanlah ide tulisan yang akan dibuat. Lalu segera tuliskan. Kita juga dapat membuat kerangka terlebih dahulu agar lebih terarah. Teruslah mengetik berdasarkan ide yang dimiliki. Jangan lihat ke belakang apa yang telah diketik. Abaikan jika ada yang salah baik dari segi struktur bahasa maupun ide.

6. Tips Memenangkan Lomba. Pastikan kita memahami dan melaksanakan aturan dan syarat-syarat lomba. Kita dapat mencari beberapa referensi yang berkaitan dengan tema lomba tersebut. Setelah kita selesai menulis, baca ulang beberapa kali. Perbaiki yang salah atau yang kurang enak dibaca. mintalah penilaian teman atau saudara. Setelah selesai mengirimkan naskah, berdoalah. Jika gagal, evaluasilah. Dan teruslah mencoba. Karena setiap orang yang berhasil sesungguhnya telah mengalami setumpuk kegagalan.

7. Langkah-langkah Menulis Buku.  Tentukan apa jenis buku yang dibuat. Apakah berupa novel, esai, ilmu pengetahuan, kumpulan cerpen atau apa. Tentukan Tema misalkan kita telah menentukan jenis buku yang kita akan tulis. Misalkan ingin menulis Novel. Setelah itu  tentukan Tema novel tersebut apa. Apakah temanya romantik, inspiratif, ilmiah, atau apa? Buat kerangka buku. Jika memilih novel, tentukan kerangka ceritanya seperti apa. Hal ini bisa  tulis atau cukup dipikirkan.

8. Tips dan Cara Mengirim Tulisan ke Media. Buat tulisan yang menarik. Pilih tulisan yang sesuai temanya dengan waktu aktual dan banyak dibutuhkan. Sesuaikan dengan media masa yang dikirimkan. Jangan kirimkan ke banyak media masa.
  
9. Membuat Pembaca Penasaran. Kalau nonton acara news atau talkshow, coba perhatikan saat hendak jeda iklan. Sebelum iklan, pembawa acara biasanya melontarkan pertanyaan terlebih dahulu pada narasumber yang belum sempat dijawab narasumber. Tujuannya apa? Agar penonton penasaran dan tak pindah chanel. Dalam dunia buku, pembaca mungkin juga akan berhenti membaca sebuah buku ketika ia merasa bosan pada bab-bab tertentu.

10. Manfaatkan Mengikuti Even-even. Ini akan mengasah otak untuk mencari ide. Melatih disiplin menulis dan memperbanyak pengalaman menulis. Mengenal penulis-penulis lain dan memungkinkan mendapatkan hadiah. 

11. Cara Mengirim Naskah Ke Penerbit dan Hal Yang Harus Diperhatikan. Siapkan naskah yang sudah rapi. Pilih Penerbit yang Sesuai dengan jenis naskah yang kita miliki. Perhatikan tata cara pengiriman dan ketentuannya. Misal, ada penerbit yang hanya menerima naskah dalam bentuk cetak, ada pula penerbit yang menerima naskah dalam bentuk file lewat email. Kirimkan naskah beserta sinopsis dan biodata penulis. Jangan mengirim naskah ke beberapa Penerbit Sekaligus. 

12. Hal Yang dipertimbangkan Penerbit dalam Menerima Naskah, adanya kesesuaian dengan penerbit. Misalkan, penerbit yang menerbitkan naskah Islami tentu akan menolak naskah yang tidak sesuai. Kualitas naskah tentu menjadi faktor terbesar dalam penilaian.

13. Waktu yang  Tepat untuk Menulis. Biasanya saat senggang atau sedang menunggu. Bisa juga malam hari sebelum tidur. Sebagian ada juga yang pada pagi hari setelah subuh. kita pun dapat memanfaatkan waktu tenang untuk menulis. Apalagi kondisi masih fresh. Saat ada ide karena ini yang paling penting.
  
14. Banyak Cara Menerbitkan Buku dan Jadi Penulis. Jika ingin menjadi penulis sukses. Penulis besar pun berjuang untuk menerbitkan bukunya. Sebagai contoh misalnya, J.K Rowling dengan karyanya yaitu Harry Potter, ternyata awalnya tak mudah untuk menerbitkan naskah yang ia tulis. Naskah tersebut sempat ditolak 12 penerbit sebelum akhirnya diterbitkan dan sukses menjadi buku paling laris yang membuatnya kaya raya.

15. Di Belakang Buku. Setelah calon pembaca melihat judul dan cover, mereka akan mencari informasi tentang buku yang membuat mereka mulai tertarik. Setelah melihat bagian depan, mereka akan melihat bagian belakang. Biasanya di bagian belakang ada sinopsis tentang buku tersebut untuk menginformasikan calon pembaca tentang isi buku itu. 

16. Yang Perlu dilakukan Penulis Setelah Bukunya Terbit. Ini sangat penting. Penulis harus membantu mempromosikan bukunya karena tidak ada jaminan bahwa buku tersebut laris di pasaran. Perbaiki naskah buku tersebut jika ada kritik dari pembaca. agar dicetakan berikutnya bukunya lebih baik lagi. Terus berkarya walaupun namanya telah melambung dan telah mendapatkan royalti yang melimpah sekalipun. 

17. Jalan untuk Jadi Penulis Sukses. Mungkin ada di antara kita yang telah menulis selama bertahun-tahun, tapi naskah  selalu ditolak penerbit. Jangan buru-buru membuang naskah, karena penulis sukses pun awalnya mengalami penolakan. J.K Rowling pun awalnya naskahnya ditolak 12 kali, begitu pun penulis lainnya. Naskah ditolak,  setidaknya punya 2 pilihan: mau terus berjuang, atau berhenti.

Jika terus berjuang, akan ada 2 pilihan lagi: mau terus mengirimkan ke penerbit mayor, atau diterbitkan secara self publishing. Mereka mampu menjual karyanya tanpa melalui toko buku konvensional. Di sisi lain, banyak juga penulis Indonesia yang awalnya menerbitkan buku secara indie/self publishing, lalu kemudian karena karyanya potensial, akhirnya diterbitkan oleh penerbit besar dan laris. 

Banyak jalan untuk menjadi penulis sukses.  Teruslah melangkah dan jangan berhenti.  Menulis sebagai kebutuhan bukan kewajiban. Menulis itu adalah suatu keterampilan, bukan bakat. Berlatihlah, tulis berbagai ide yang ada di sekitar kita. Jadikan menulis dan membaca sebagai gaya hidup. Membaca secara  selektif. 

Yang terpenting tetap istiqamah dalam menulis. Biarkan tulisan menemui takdirnya. Jangan risau, tetaplah menulis dan belajar mengupgrade diri agar naik kelas. Menulis  dari apa yang disukai dan dikuasai.

Alhamdulillah begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari apa yang telah dilakukan Ibu Kanjeng. Semoga resum ini bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.


Selasa, 13 Oktober 2020

Puisi Literasi

 

SAHABAT

Karya Surmanto Adam


Sahabat,

Anganku seakan pergi entah kemana

Mencari jejak langkah yang terpenggal

Mendaki bukit dan menapaki lembah yang terjal

Aku tetap mencari

Sahabat,

Entah berapa lembaran surat yang aku kirimkan

Entah berapa banyak untaian kata yang telah aku catatkan

Dan entah berapa banyak untaian kalimat rindu yang aku taungkan

Untukmu suratku, sahabat

Sahabat

Keyakinanku akan kesetiaanmu Seakan tumbuh menjulang pada sanubariku

Merobek dinding peradaban yang kian angkuh dan pongah

Aku tak peduli

Sahabat,

Waktu bergulir diatas seutas zaman

Melangkah maju meninggalkan teori-teori kehidupan

Membelah tebing menyebrangi lautan dan menembus pembatas persahabatan

Aku tetap mencari

Disini aku tak pernah bosan menunggu

Menunggu cerita tentang kebahagiaanmu pada kampong halaman

Meski hanya sepucuk surat darimu

Mutiara Kreator Dari Morowali

Bapak Hamzah Ramdhani Sang Kreator Pembelajara



Oleh Surmanto Adam
Senin, 12 Oktober 2020

Grup WhatsApp Belajar Menulis Gelombang 16 malam ini menghadirkan seorang kreator pembelajaran.  Ya, memang tidak seperti biasanya grup ini menghadirkan narasumber hebat. Om Jay ( Bapak Wijaya Kusuma) sebagai pengasuh grup belajar menulis online mungkin memiliki tujuan besar. Seorang guru atau penulis diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan menulis hebat, namun berupaya memiliki kemahiran dalam membuat konten edukatif yang memadai. 

"Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus",  demikian pengantar Om Jay dalam memotivasi peserta untuk menyelesaikan tugas resume pada hari ke empat ini. Namun apa boleh buat selalu saja aku tidak dapat menyelesaikan itu sesuai harapan. Muhammad Tsaqif Asy-Syuja"i si bungsu baru berumur 6 bulan. Sambil membaca Chat grup WhatsApp aku membagi peran dengan istri tercinta yang memang sudah nampak lelah. Terpaksa semua tugas aku selesaikan disaat senggang.

Gawaiku penuh pesan dari berbagai grup WhatsApp, memang akhir-akhir ini aku banyak mengikuti grup menulis dari berbagai kalangan. Harapanku dapat menimba ilmu dari orang-orang hebat khusus dibidang literasi yang satu ini. Om Jay selalu memberi semangat pada penulis pemula sepertiku ini. Beliau tidak segan-segan memberikan apresiasi positif bahkan memberi reword pada peserta terbaik.  Aku suka gaya beliau dalam memberi motivasi.

Malam ini narasumber kreator adalah Bapak Hamzah Ramdhani seorang guru SMP Negeri 2 Bumi Raya Kab. Morowali-Sulawesi Tengah. Usianya tigabelas tahun lebih muda dariku, beliau lahir pada tamggal 22 Juni 1986. Namun demikian beliau memiliki segudang prestasi yang sangat cemerlang, ya secemerlang ide atau gagasannya.

Prestasi beliau antara lain:
1. Juara 1 Gupres tingkat propinsi Sulawesi Tengah dan finalis Gupres Nasional 2017
2. Duta rumah belajar 2019
3. Pendamping guru penggerak
4. Instruktur Nasional Kegiatan Rumah belajar
5. Juara 2 Inobel Masa pandemi tingkat propinsi
6. konten kreator

Seperti biasa pemandu kegiatan malam ini Ibu Sri Sugiastuti atau kami mengenalnya Ibu Kanjeng. Dengan suara yang khas dan lugas namun tetap santai dan penuh kehangatan membuka jalannya acara. Beliau membuka dengan mengawali kalimat toyibah dan ucapan rasa syukur kepada Allah Swt. Tanpa berpanjang kalam Ibu Kanjeng pun memberikan waktu paparan kepada Bapak Hamzah Ramdhani.

Mengawali kegiatan, Pak Hamzah Ramdhani menjelaskan latar belakang kegiatan beliau pada peserta. Beliau pun menyampaikan bahwa pada kesempatan ini peserta diminta memberikan tanggapan terhadap beberapa konten pembelajaran yang dishare melalui grup WhatsApp. Untuk mengawali, beliau memberikan  sebuah video pembelajaran dari akun youtubehttps://youtu.be/PSJ2wA5LVDO dan peserta diminta menganalisis.


Menurut pandanganku video pembelajaran ini memiliki tata letak gambar yang cukup baik, memiliki keterangan gambar yang cukup kongkrit dan dengan dukungan backsound yang baik pula. Namun pada video ini tidak terdapat gambar guru yang sedang mengajar. Selang beberapa menit Pak Hamzah pun mengirimkan video kedua dari https://youtu.be/1J2mCcpSOwY 


Pada video pembelajaran kali ini siswa diberikan apersepsi tentang gerak hewan, namun pada video ini siswa seakan berada di ruang kelas, sebab siswa dapat melihat secara langsung gurunya yang sedang mengajar. Bahkan pada video ini diberikan video atau gambar visual sehingga siswa tidak menerka-nerka tentang sebuah isi atau materi pembelajaran. 

Dari dua video tersebut di atas beliau (Pak Hamzah Ramdhani) memberikan tanggapan antara lain video 1 lebih mudah proses pembuatannya dari pada video 2 yang harus melalui proses bagaimana guru tampil di depan kamera. Semua peserta antusias mengikuti diskusi ini. Hal ini nampak banyaknya peserta memberikan tanggapan melalui analisis yang berbobot. Diakhir tampilan analisi peserta beliau menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari dua video tersebut.

Lebih lanjut Pak Hamzah menjelaskan bagaimana langkah-langkah membuat video pembelajaran. Beliau mengemukakan enam langkah membuat video pembelajaran antara lain:
1. Analisis KI dan KD
2. Memilih indikator yang akan dibuat video pembelajaran
3. Mengumpulkan aset video
4. Lakukan proses perekaman
5. Editing video pembelajaran
6. Review dan revisi

Lebih lanjut beliau menyampaikan bagaimana mengumpulkan aset-aset video atau gambar yang dibutuhkan. Hal ini dapat melalui google, freepik.com atau youtube. Jika menginginkan gambar dengan resolusi tanggi, dapat menggunakan keyword HD pada google atau dengan PNG.

Disela kegiatan Ibu Kanjeng memberikan kesempatan kepada semua peserta yang hadir secara daring. Satu diantaranya  "Pembelajaran ini sangat menarik, apakah Pak Hamzah dapat memberikan tutorial pembuatan videonya?".  Tanpa panjang lebar beliau langsung merespon pertanyaan peserta dengan mengirimkan video pembelajaran melalui link https://youtu.be/wcTTPZTzpJA 


"Tidak ada aplikasi editing video yang terbaik, yang terbaik adalah yang kita kuasai"

Menanggapi pertanyaan Ibu Sumartini asal Lebak tentang cerita dan upaya beliau menjadi Gupres nasional. "Menjadi finalis Gupres merupakan satu hadiah terindah dari Allah Swt. Dari Gupres tersebut saya diutus ke Cina bersama Om Jay, Pak Hakim, Pa Ya'Dedi dan teman-teman lainnya". Selanjutnya ia mengungkapkan setelah lulus dari Universitas Negeri Malang beliau kembali ke kampung halamannya di Morowali. Di kampungnya belaiau membuat buku IPA panduan guru dan panduan siswa. Tahun 2017 beliau mengikuti pelatihan Gupres dengan bekal portopolio dan penelitian-penelitian ilmiah akhirnya beliau juara 1 gupres propinsi Sulteng dan mengikuti seleksi tingkat nasional hingga masuk sebagai finalis.

closing ceremony beliau, "Bapak ibu yang saya hormati saya sangat berbahagia bisa berbagi pada forum yang luar biasa. Terus terang beberapa hari ini saya banyak belajar dari bapak dan ibu. Saya membaca resume demi resume yang bapak ibu buat". 

"Semoga kita tetap semangat dalam menjalankan amanahsebagai pendidik untuk mencerdaskan anak bangsa. Mari bersama-sama mengumpulkan bekal kebaikan!".

"Saya Hamzah mengucakan mohon maaf dan terima kasih!".



Semoga resume ini bermanfaat.

Senin, 12 Oktober 2020

Puisi Literasi

 

AKU PERTAMA BAGIMU

Oleh Surmanto Adaam

Aku pertama bagimu, saat dirimu awam untuk mengenal sesuatu

Aku pertama bagimu, saat dirimu alfa akan ilmu

Aku pertama bagimu, saat dirimu hampa akan aku

Aku pertama bagimu, saat gelap menerpa hidupmu

 

Aku pertama bagimu, karna sesungguhnya selalu butuh akan aku

Aku pertama bagimu, karna aku petunjuk untukmu

Aku pertama bagimu, karna ketulusannku selalu membantumu

Aku pertama bagimu, karna aku pengobat rindumu

 

Wahai insan

Terbelenggu fikiran janganlah membuatmu malu akan kefakiran ilmu

Pergi dan datanglah kepada ku

Karena aku ada hanya untukmu

Walau aku hanya rangkaian kata dari buah fikiran orang

Asaku selalu untukmu

Hasrat selalu ingin bersamamu

Jadikanlah aku pertama bagimu.


Bekasi, 11 Oktober 2020

Minggu, 11 Oktober 2020

MENULIS ITU MUDAH

Bersama Pak Ya'Dedi Suhendi, S.Pd.,M.Pd.

Sabtu, 10 Oktober 2020


Menulis harus memiliki tujuan. Seseorang yang ingin menulis di media apa pun tentu memiliki tujuan yang bermacam-macam. Misalnya untuk mengungkapkan ekspresi jiwa yang sedang bahagia atau sedih, sekedar  menyalurkan hobi, meningkatkan profesionalitas kerja pada bidang tertentu, dan sebagainya. Dengan demikian melalui menulis ia akan mendapatkan manfaat sesuai keinginan.

Dalam sebuah WhatsApp grup menulis angkatan 16 yang difasilitasi Om Jay dengan Ibu Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng) sebagai moderator memperkenalkan Pak YA'DEDI SUHENDI, S.Pd.,M.Pd. Beliau (Pak Ya' Dedi Suhandi) merupakan guru SDN 11 Pontianak Timur dan salah satu GUPRES yang mendapat keberkahan untuk menimba ilmu bersama Om Jay ke Cina.

Berbagi pengalaman beliau kepada peserta penulis awal seluruh Indonesia sangat inspiratif. Orang yang memiliki moto : Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Semakin banyak ilmu, kita tak akan menyalahkan orang lain. Sebelum memulai pembahasan beliau memberikan tips jitu bagi penulis awal, antara lain menciptakan semangat, motivasi, kemauaan, usaha, konsistensi dan berdoa sebagai kunci sukses penulis.

Menurut Bapak Ya'Dedi Suhendi setiap orang mampu menulis. Untuk memulai menulis lakukanlah dari hal-hal yang ringan saja atau dari tulisan pendek. Latihan menulis dapat diawali dari tulisan pendek, seperti menulis tentang kegelisahan, pengalaman, hobi, keahlian, impian, minat, dan lainnya. Dan yang tidak kalah penting adalah mencari teman yang dapat menginspiratif atau memberi semangat.

Saat menulis melalui kursus merasa kurang nyaman, lakukanlah secara mandiri. Menulis denga cara mandiri tentu akanlebih bebas dan memiliki kepuasan tersendiri. Bahkan menulis secara mandiri akan menghilakan ketakutan terhadap persaingan ataupun rasa takut karena aturan baku dan ketat. Dengan mengabaikan segala aturan yang mengikat dan melemahkan semangat itu merupakan salah satu kunci sukses menulis.

Kita sering update status pada media facebook, WhatsApp atau instagram, maka lakukanlah menulis layaknya kita update status. Dengan demikian maka akan tertanam dalam diri kita bahwa menulis itu mudah. Menulis semudah mendeskripsikan apa yang kita lihat dan apa yang dirasa. Menulis tidak perlu muluk-muluk atau terlalu rumit. Menulis itu sesederhana apa yang dilihat, menariknya dengan satu objek namun dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda antar penulis.

Dalam menulis terkadang merasa sulit menentukan topik. Pilihlah topik berdasarkan "minat" artinya kita dapat membuat tulisan sederhana dengan mengambil topik sesuai minat kita. Bahkan bisa saja sesuatu yang nampak di depan kita akan menjadikan bahan tulisan. Bahkan beliau menambahkan tidak ada salahnya rileks sejenak dengan minum secangkir kopi atau teh untuk dapat melanjutkan kegiatan menulis.

Jika memang sulit menentukan atau mencari ide yang ingin disampaikan, kita dapat menuliskan kehidupan kita sehari-hari. Dengan menulis kehidupan sendiri mungkin saja akan menjadi sebuah novel. Bukankah dalam dunia ini banyak ketidakpastian?, maka mungkin saja dari yang awalnya sekedar iseng ternyata menjadi buku-buku best seller.

Tulisan yang kita buat ingin memiliki roh, maka diperlukan penghayatan. Ide yang biasa-biasa saja namun jika dibuat dan dikemas dengan penuh penjiwaan maka akan muncul emosi pembaca. Contoh, gadis berambut panjang yang selalu mengintai dalam keraguan. Ia ingin selalu memergoki setiap derap langkah pejalan kaki di hadapannya. Keinginannya itu seakan terpancar di raut wajah kusam dan lugu. Ia hanya mengharap belas kasihan dari sang dermawan. Bagaimana dengan narasi yang tidak menghayati berikut ini. Gadis itu mengharap belas kasihan orang-orang yang berjalan kaki didekatnya.

Nampak jelas dari kedua contoh tersebut. Aturan penghayatan sangat penting selama penggarapan sebuah karya buku. Baik buku ajar, buku fiksi atau buku motivasi dan yang lainnya. Cara kreatif tidak dapat dibatasi. Setiap orang memiliki cara kreatif masing-masing. Untuk meningkatkan kreatifitas dalam menulis hendaknya banyak-banyak membaca karya orang lain.

Kesimpulan :

Menulis itu mudah, sama halnya ketika kita menulis sebuah status pada media sosial atau apapun. Mulailah menulis dari hal-hal yang sederhana dan nampak dihadapan kita atau sesuatu yang menjadi minat. Menulis hendaknya memiliki tujuan sehingga kita mampu mendapatkan atau merasakan manfaat dari apa yang kita tulis. Dalam menulis dibutuhkan roh. Dengan adanya roh dalam menulis si pembaca tulisan akan hanyut dalam alur tulisan yang dijiwainya. Untuk memperindah gaya tulisan dapat menggunakan kata-kata kiasan sehingga menambah daya pikat bagi pembaca. 

Semoga bermanfaat.

   

Kamis, 08 Oktober 2020

BELAJAR DARI YANG PERNAH DIAJAR

Cak Inin Sosok Guru Pembelajar

Oleh : Surmanto Adam



Umur tak lagi muda, mungkinkah menjadi lebih baik sebuah keniscayaan?. Masih menjadi penyakit sebagian orang yang enggan belajar dengan berbagai alasan. Ketika ada orang yang mengajak kita untuk melakukan sebuah perubahan mungkin saja akan terlontar kata-kata yang menunjukkan kurang optimisnya kita. seperti "Ah saya sih tidak bisa", "Saya sudah tua, jadi otak saya tidak mampu", "Ah repot, anda tahu bagaimana kondisi saya ini". Bahkan mungkin masih banyak alasan yang terucap. Pada hal sesungguhnya 99% kegagalan seseorang karena banyaknya alasan. 

Jika mindset atau pola pikir yang setiap kali muncul seperti itu maka menjadi lebih baik merupakan sebuah keniscayaan. Namun hal itu tidak berlaku bagi sosok yang satu ini. Namanya Mukminin, S.Pd. M.Pd. Seorang pria kelahiran Jombang, 6 Juli 1965  merupakan PNS yang mengajar pada SMP Negeri 1 Kedungpring Lamongan sejak tahun 1989 sampai sekarang.

Melalui pesan WhatsApp pada sebuah grup Belajar Menulis asuhan Om Jay yang dipandu Ibu Kanjeng beliau menyapa dengan penuh kesahajaan. "Tiada kata terlambat untuk menjadi seorang penulis", ucapnya. Sebaik-baik manusia adalah yang mau berubah kearah kebaikan, sebab Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, kalau kaum itu tidak mau merubahnya. Demikian beliau membuka pertemuan dengan peserta bimbingan menulis dari berbagai daerah.

Sejak lama beliau memang memiliki hobi membaca dan menulis, bahkan sejak duduk di bangku SMP beliau senang menulis buku harian. Pada usia 54 tahun keinginan untuk menjadi penulis semakin kuat, namun saat itu beliau belum mengerti cara untuk menyalurkan hobinya menjadi sebuah karya-karya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Dengan semangat manjadda wajadda keinginannya itu semakin kuat. Tepatnya setelah ia berkunjung ke kediaman Ibu Emi Sudarwati yang merupakan muridnya sendiri ketika SMP dan telah memiliki 300 lebih buku hasil karyanya. "Pak Min, segera menulis buku karena jenengan guru bahasa Indonesia saya di SMP pasti bisa". ucap Bu Emi, "Apa lagi bapak sering antar orang umrah ke Mekah, bisa ditulis Pak!". "Iya Mbak, insyaallah saya kepingin sekali, lalu bagaimana caranya?". sahut Cak Inin (pangilan akrab). "Ikut workshop di PBG Bojonegoro sesi 2 saya daftarkan ya?".   

Pertemuannya dengan Bu Emi mengantarkannya mengikuti kegiatan workshop yang dilaksanakan pada tanggal 29 Februari 2020 dan diikuti oleh 81 peserta dari Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Dengan narasumber yang berpengalaman seperti Ajun Pujang Anom, Slamet Widodo dan muridnya sendiri Ibu Emi Sudarwati (Gupres pemenang Inobel 2016) langsung praktik menulis.

Kebanggaan dan rasa bahagia menghiasi kehidupannya karena dapat belajar dari seorang murid yang dulu dibimbingnya. Sikap ini memberi pelajaran bagi kita betapa besar jiwa seorang Cak Inin. Ia tidak merasa rendah dan direndahkan karena harus belajar dari seorang murid sekali pun. "Jangan lihat siapa yang bicara tapi dengarkan apa yang dibicarakan!" ucapnya.

Mulai mengikuti kegiatan menulis mengantarkannya pada menciptakan karya bersama. 8 Maret 2020 beliau mengikuti kegiatan serupa (workshop) di TBK Kinanthi di rumah kediaman Ibu Emi Sudarwati. Dengan pembimbing yang sama ia pun mampu menghasilkan karya sendiri 55 Pantun Nasihat yang diterbitkan Kelompok Majas Bojonegoro.

Kehausannya terhadap dunia tulis menulis menuntunnya untuk mengikuti kuliah online dengan Om Jay melalui WhatsApp Grup PGRI gelombang 8. Kisahnya pun ditulis dalam buku SEMANGAT MENULIS BERSAMA BU KANJENG (antologi) bersama gelombang 12 dengan judul Virus Semangat Menulis Merasuk Jiwamu. 

Dengan kegiatan yang diikutinya mengenalkan Cak Inin pada Om Dedi Dwitagama dengan materi Belajar Ngeblog dan Youtuber. Dengan kalimat "Kita pernah hidup dan meningalkan jejak kebaikan. Karena kebaikan berbalas kebaikan" membuatnya semakin bersemangat untuk menulis. Dan yang tidak kalah penting bagi Cak Inin motivasi Om Jay "Menulislah setiap hari dengan hati, buktikan apa yang terjadi!".

Pada akhirnya kegiatan menulis mengalir beitu saja hingga beliau mengenal Ibu Sri Sugiastuti ( Bu Kanjeng ) yang mengajaknya menerbitkan buku bersama antologi Puisi dalam Pandemi Covid-19 denganharapan kehidupan New Normal.

Kini Pak Mukminin atau Cak Inin telah memiliki banyak pengalaman dibidang yang ia cita-citakan sejak dulu. Ia telah banyak mengenal dan bersahabat dengan para penulis hebat yang selalu mau bertukar pikiran dalam dunia tulis menulis. Saat ini sudah tujuh buah buku karyanya  telah terbit. Bahkan kini ia belajar menjadi penerbit dengan dukungan ibu Rasita dari Bengkulu yang memesan bukunya yang berjudul Jurus Jitu Menjadi Penulis Handal Bersama Pakar. Sampai tulisan ini saya buat Cak Inin dibanjiri pesanan buku karya-karyanya yang sangat inspiratif.

Salam Literasi,



Selasa, 06 Oktober 2020

"KATA ADALAH SENJATA"

Bunuhlah Ketakutan Sebelum Kau Dibunuh Ketakutan

Senin, 5 Oktober 2020

Oleh Surmanto Adam

Sering kita melihat begitu banyak orang yang tidak mau mencoba sesuatu untuk merubah dirinya. Orang yang tidak mau membunuh ketakutan maka ia akan terbunuh oleh ketakutannya sendiri. Demikian pembuka yang disampaikan oleh Bapak Abdul Hakim Busro seorang narasumber  berpengalaman. Pengatar yang sangat simpel namun memberikan makna yang cukup dalam.

Untuk melakukan sesuatu yang baru khususnya dalam dunia menulis maka kata kuncinya "Kata adalah senjata". Dengankata kita dapat memberikan cinta, dengan kata kita dapat memberikan luka dengan kata kita dapat memberikan dan melakukan banyak hal. Maka dengan demikian kata adalah senjata.

Untuk menjadikan kata sebagai senjata tentu kita harus memahami penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Banyak penggunaan bahasa yang kurang tepat dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita harus menjadi guru cerdas berbahasa. Untuk menjadi guru cerdas berbahasa lakukan tiga hal yaitu: cintai bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.

Membaca merupakan gerbang utama dan kunci dari sebuah keberhasilan. Orang-orang hebat lahir dari orang yang gemar membaca (pembaca terbaik). Untuk menjadi seorang penulis maka kita harus gemar membaca. Sebagus apa pun keinginan menjadi penulis jika tidak diimbangi dengan keterampilan membaca yang baik maka tulisan dan kosa kata kita akan terbatas dan nampak membosankan. Dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata dalam memori kita.

Terdapat 109.000 kata dalam KBBI 2018. Dari ratusan ribu kata berapa yang aktif dan mampu terungkapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengaktifkan kata-kata tersebut maka lakukanlah dengan membaca. Maka dengan demikian kata-kata tersebut akan keluar dari memori kita. 

Dalam menulis kita dapat menggunakan bahasa seperti apa tergantung jenis tulisan kita. Tidak harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun menggunakan bahasa Indonesia yang baik  itu "wajib" hukumnya. Bingkai tulisan sepatutnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, selebihnya dapat disesuaikan. Tentu dalam penulisan bukan bahasa baku hendaklah dicetak miring bila perlu diberi arti.

Menulis memiliki keterbatasan waktu, artinya ketika dibatasi dateline tentu menulis dengan secukupnya. lain hal jika kita memiliki banyak waktu tentu akan lebih banyak lagi dalam menulis. Ketepatan dan kecepatan memilih sumber dapat kita lakukan dan keterampilan tersebut dapat terlatih dengan seringnya membaca. Idealis dalam mencari berbagai sumber perlu namun harus diingat bahwa dalam menulis kita memiliki keterbatasan waktu. 

Membaca akan mengasah kemampuan kita dalam menulis. Motivasi apapun yang muncul pada dasarnya tergantung pada diri kita sendiri. Untuk memiliki kemampuan menulis dengan baik maka lakukan kegemaran membaca.  Dengan memaksakan diri untuk membaca maka akan menambah kemampuan atau daya keterampilan kita dalam menulis.

Membangun budaya baca guru dan siswa di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Guru dan siswa dapat membuat program wajib baca baik itu buku fiksi maupun non fiksi. Untuk lebih mendekatkan pada aktifitas membaca agar lebih bermakna guru dan siswa yang telah membaca diharapkan membuat resensi buku dari apa yang dibaca. 

Ditengah kesibukan membaca  terkadang sering terlewatkan. Untuk mengatasi hal ini biasakan membawa buku bacaan yang belum sempat terbaca. Jika di sekolah biasakan ketika hendak masuk kelas guru membawa buku bacaan, dengan demikian siswa akan termotivasi dalam kegiatan gemar membaca. Untuk meningkatkan minat membaca  mulailah membaca dari hal-hal yang disukai.

Dalam membaca efektif  tentukan tujuan membaca. Pada bagian awal tentu kita akan membaca daftar isi. Untuk menentukan bacaan yang diminati tentu fokus terlebih dahulu dari tujuan membaca. Dalam menentukan fokus bacaan bukan berarti bagian yang lain tidak penting boleh jadi bagian lain menjadi pendukung dari apa yang menjadi fokus dalam bacaan.

Demikian paparan resume belajar menulis kelas gelombang 16, semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan komentar sebagai bahan perbaikan.

Barakallah fikum

 





Senin, 28 September 2020

Rainbow Kue Ulang Tahun Kakak


Sebelas Tahun si Kakak

Oleh : Surmanto Adam

#AISEI
Minggu, 27 September 2020

Sabtu, 26 September 2020 bagi sebagian orang mungkin dianggap hari dan tanggal yang biasa. Tidak bagi Amiirah yang saat ini telah menjadi seorang kakak tanggal tersebut merupakani waktu yang dinantikan sejak lama. Bagaimana tidak, karena 26 September adalah tanggal kelahirannya.

Sejak beberapa bulan lalu Si Kakak selalu menanyakan tentang tanggal kelahirannya yang masih lama. Terlebih setelah memasuki bulan September 2020 Intensitas bertanya pun semakin sering. Sesekali ia mengajukan pertanyaan selalu diawali dengan kata-kata "Abi aku boleh tanya tidak?, tapi abi jangan marah ya?". Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan selalu diiringi kata "tapi abi jangan marah ya?" tentu mengundang rasa ingin tahu dibalik pertanyaan Si Kakak.

Rasa ingin tahu itu pun kutanyakan langsung pada si Kakak. "Kakak mau tanya soal apa sih?, kok abi jadi penasaran". 
"Ga ah bi, aku takut abi marah!", jawabnya singkat. Rasa penasaran semakin bertambah untuk itu aku coba menghampiri lebih dekat. "Memangnya abi pernah marah kak?", kataku. Dengan senyumnya yang manis ia menjawab, "ngga siih, cuma kayanya kalau yang ini Amiirah takut abi marah!".
"Sudah kakak bilang saja, agar abi tahu, kalau kakak tidak bilang bagaimana abi paham!".
"Tapi abi janji jangan marah ya?". pinta si Kakak
"Oke siap, ayo bilang!". jawabku singkat.
"Janji ya jangan marah!" kembali Amiirah menegaskan.
"Iya, abi janji nih tidak marah!". kataku lebih meyakinkannya.  
Tidak lama ia membisikan aku "boleh tidak aku minta kue ulang tahun rainbow?". Rupanya si Kakak minta tanggal kelahirannya dibelikan kue ulang tahun.

Sejujurnya memang aku mengingikan anak-anakku tidak menjadikan tanggal kelahiran sesuatu yang wajib dirayakan. Melihat permintaan Amiirah yang begitu besar untuk mendapat persetujuan abinya tentu akan sangat berpengaruh pada psikologi perkembangan dirinya. Sudah menjadi konsep pendidikan yang aku tanamkan pada  anakku untuk tidak langsung menyetujui apa yang diinginkan. Selalu ada kata "Insya Allah jika kelak abi ada uang atau rizki!". Untuk memberi rasa dihargai dari apa yang telah diungkapkan aku selalu mengatakan "doakan semoga Allah memberi abi rizki!". 

Bentuk pendekatan pendidikan keluarga seperti ini memang telah diajarkan orang tuaku dulu. Dengan cara seperti ini kita telah menanamkan akidah bahwa rizki datang dari Allah Sang pemilik alam raya. Disamping itu aku memberi peluang anak-anakku untuk berpikir bahwa apa yang diingikan perlu proses yang panjang. Bahkan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dibutuhkan kerja keras.

Sudah sejak awal bulan September sebenarnya aku mengetahui keinginan Amiirah untuk mengajak teman sepermainan kerumah. Umminya telah menyampaikan hal ini kepadaku namun dihadapan Si Kakak aku seakan tidak mengetahuinya. Aku lebih menyukai anakku mengutarakannya sendiri setiap apa yang diingikan atau yang dirasakan. Dengan menyampaikan apa yang dirasakannya sendiri tentu membuka peluang terbentuknya sikap berani dan penuh percaya diri. Hingga kini anak-anakku lebih suka mengutarakan apa yang dirasakan secara langsung.

Bayangkan jika aku selalu menyetujui apa yang menjadi keinginan anak-anakku tentu akan berbahaya bagi perkembangan psikologinya. Anakku tentu akan menjadi lebih buruk, merasa mudah dan tidak mengerti arti keberhasilan, tidak memiliki rasa percaya diri, bahkan cenderung selalu menuntut. Untuk menghindari dampak buruk tersebut terkadang aku menawarkan challenge (tantangan).

Tidak ingin memunculkan rasa kecewa tentu aku berusaha semaksimal mungkin untuk mewujukkan keinginannya. Aku tidak ingin mendapat identitas pembohong dari anak-anakku sendiri. Amiirah sudah mengajak teman-temannya untuk datang pada tanggal 26 September 2020. Aku tidak ingin mengecewakan dan bahkan melukai perasaannya. Tidak dapat aku membayangnyakan jika aku tidak mewujudkan keinginannya itu. Memahamkan anak terhadap nilai-nilai agama dan sosial tentu perlu proses. Sebagai orang tua kita tidak akan memaksakan sekehendaknya. 

Diskusi pun terjadi antara aku dengan istri. Keputusannya keinginan si Kakak dipenuhi dan tentu dengan pernak-pernik sederhana saja. Tepatnya tanggal 26 September 2020 istriku dibantu ibu mertua menyiapkan segala kebutuhan berikut bingkisan yang akan dibagikan kepada teman-temannya kakak. 

Wajah ceria si Kakak nampak berseri. Kebahagian dari terwujudnya keinginan menjadi salah satu penyebabnya. Teman sepermainan mulai berdatangan. Pukul 16.30 ummi membuka acara ulang tahun. Kue ulang tahun rainbow pun telah dipotong menjadi beberapa bagian. Anak-anak sangat senang mengikuti menikmati potongan kue rainbow tersebut. Selesai acara mereka dibekali bingkisan kecil yang disiapkan si Kakak.

Bahagia rasanya dapat memenuhi keinginan si Kakak. Semua orang tua tentu merasa bangga jika keinginan anaknya terpenuhi. Bukan nilai suatu barang yang menyebabkan hadirnya rasa bahagia anak. Sikap kepedulian atau kepekaan terhadap perasaan anak menjadi unsur terpenting membangun nilai-nilai universal dalam kehidupan.

Selamat ya Kak, Insyaallah Kakak akan menjadi anak yang sholihah. 
Tidak terasa si Kakak kini sudah berumur belas tahun.




 



Minggu, 27 September 2020

Menghidupkan PPK Dalam Situasi Pandemi Covid-19

Pendidikan Karakter Saat PJJ

Oleh Surmanto Adam

#AISEI
Sabtu, 26 September 2020


Sejak Maret 2020 pandemi covid-19 atau dikenal coronavirus belum menunjukan adanya curva penyebaran yang melandai. Terlebih bagi daerah yang berada di perbatasan Propinsi DKI Jakarta tentu memiliki potensi cukup besar dalam penyebaran covid-19. Kabupaten Bekasi yang dikenal sebagai kota industri belum lama menjadi cluster baru terjadinya penyebaran covid-19. Dengan munculnya cluster baru ini tentu menjadi alasan bagi Pemerintah Kabupaten Bekasi melakukan perpanjangan masa PSBB.

Di tengah situasi pandemi covid-19 pendidikan menjadi unsur terbesar yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah pusat dan daerah. Perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan semakin nampak meski muncul pro dan kontra dari berbagai pandangan masyarakat. Diawali dengan pemberlakuan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau dikenal Belajar Dari Rumah (BDR) hingga penyediaan/pemberian fasilitas belajar online bagi anak sekolah.  

Penyediaan konten pembelajaran online pun bermunculan. Berbagai aplikasi belajar dari yang prabayar maupun yang gratisan. Guru dan murid dapat menggunakan aplikasi belajar mulai dari yang sederhana sampai yang sangat lengkap. Semua aplikasi yang tersedia memang sangat membantu dalam pelaksanaan PJJ.

Dari sekian banyak aplikasi yang tersedia mungkin mayoritas guru memanfaatkan  WhatsApp sebagai sarana pelaksanaan PJJ. Dengan WhatsApp guru dan murid dapat mengirim tugas dan memberi umpan balik dengan fasilitas yang disediakan. Aplikasi kedua yang banyak digunakan yaitu Google Classroom. Aplikasi ini dapat memberikan tugas layaknya di kelas. Guru dapat memberikan tugas berupa materi, quis, video, pilihan ganda, uraian, gambar, dokumen dan nilai dan catatan dapat diketahui oleh siswa dari hasil tugas yang diberikan guru.

Pelaksanaan belajar secara online kerap kali guru lupa dalam memberikan penekanan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada siswa. Guru hanya terpaut pada pemenuhan tuntutan Kompetensi Dasar (KD) dari tiap mata pelajaran. Tugas yang diberikan guru hanya pada pemenuhan ketercapaian kognitif. Salah satu contoh siswa ditugasi membaca halaman tertentu lalu menyelesaikan tugas yang tertera di buku atau siswa diminta simak tayangan youtube lalu kerjakan soal berikut.

Jika proses PJJ yang dipraktikkan hanya sekedar menggugurkan kewajiban maka pertanyaannya "Apakah proses penbelajaran jarak jauh yang dijalankan mampu memiliki makna?" dan bagaimana jika tugas yang diberikan guru terlampau banyak sehingga tidak menutup kemungkinan diselesaikan oleh orang tua. Jika hal ini terjadi tentu proses belajar yang dijalankan tidak dapat memberi perubahan besar bagi anak.

Yang lebih mencederai pelaksanaan PJJ adalah kurangnya komunikasi antar guru, siswa dan orang tua untuk membangun sinergi pembelajaran bermakna. Tidak menutup kemungkinan dimasa PJJ masih terdapat guru yang enggan menggunakan aplikasi zoom, duo, google meet, Webex Meet atau sekurang-kurangnya VC WhatsApp untuk berkomunikasi. Komunikasi sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Tanpa adanya komunikasi dalam sebuah pelaksanaan pembelajaran tentu sangat tidak mungkin akan terciptanya tujuan pembelajaran. 

Di masa pandemi komunikasi dalam PJJ menjadi sarana penting bagi guru untuk mentransper nilai keteladanan. Pada pembelajaran normal guru menjadi sosok teladan bagi muridnya secara langsung. Murid  meniru keteladanan guru dari karakter dan kepribadian yang nampak di depan matanya. Komunikasi rutin (setiap hari ) atau berkala memiliki nilai positif yang sangat besar. Nilai-nilai positif yang muncul antara lain adalah :

1. Siswa merasa mendapat perhatian guru meski hanya melalui komunikasi video.
2. Mengurangi kejenuhan siswa dalam PJJ yang hanya berupa tugas-tugas belajar.
3. Munculnya rasa percaya diri yang disebabkan motivasi guru secara langsung pada siswa.
4. Meningkatnya nilai-nilai karakter dari komunikasi verbal.
5. Tertanamnya nilai keteladanan pada siswa dari guru yang mampu mengolah komunikasi dengan baik.

Pendidikan karakter saat PJJ dapat dimunculkan sejauh adanya keinginan guru untuk mengemas pembelajaran online secara lebih baik. Dalam upaya menghidupkan Penguatan Pendidikan Karakter saat PJJ tentu perlu adanya kerjasama antara guru dan orang tua. Orang tua yang merupakan komponen terdepan dalam memberikan pendampingan belajar online berperan penting membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

Penguatan Pendidikan Karakter yang biasanya disajikan dalam sebuah aktifitas pembelajaran  di sekolah kini sebagian besar dilakukan dilingkunga rumah bersama keluarga. Pendidikan karakter yang yang dilakukan melalui penyelarasan aspek kinestetik (gerak) estetik (hati) etik/etika (prilaku/adab) dan literasi merupakan upaya pemerintah dalam menciptakan generasi emas. 

Pada intinya nilai-nilai pendidikan karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas akan dapat dilaksanakan dalam situasi pandemi covid-19 melalui PJJ oleh guru, siswa dan orang tua melalui komunikasi yang baik dan berkesinambungan. Dengan demikian setidaknya upaya  membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas tahun 2045 yang mampu menghadapi dinamika perubahan serta memiliki kemampuan aspek literasi dasar dan kompetensi abad 21 dapat tercapai.

Demikian semoga bermanfaat,jangan lupa mohon koreksi dan tanggapan,




Rabu, 09 September 2020

Puisi Untuk Anakku

 

NASIHAT UNTUK ANAKKU

 

Nak, kemarilah sayang ….

Tahukah kamu mengapa bangsa ini jauh tertinggal?

Nak, sadarlah sayang….

Bangsamu telah puluhan tahun merdeka dari cengkraman bangsa serakah


Nak, lihatlah sayang….

Bangsa lain jauh lebih maju dari bangsamu ini?

Nak mengapa bangsamu seperti ini, sayang….

Padahal tuhan telah memberikan banyak sumber alam.

 

Nak, tahukah kamu mengapa mereka jauh lebih maju dan modern?

Dan tahukah kamu mengapa bangsa ini sulit bangkit dan mendongakkan kepala?

Itu karena kita malas dan tidak peduli

Itu karena kita cepat bosan dan mudah patah arang

Malas dan tidak peduli akan ilmu


Nak, dengarlah sayang…

Buku dan ilmu tidak bisa kau pisahkan

Bacalah buku dan temukan ilmu, karena ia penjaga bangsamu

Agar tetap berdiri kokoh diantara norma ilmiahmu


Nak, camkanlah ini sayang…

Dan jadikan nasihat untuk negeri warisan pahlawanmu



Minggu, 06 September 2020

Pembelajaran Daring dan Luring Yang Efektif dan Menyenangkan

Om Jay Motivator Pembelajaran Daring dan Luring

Minggu, 6 September 2020

Oleh Surmanto Adam
#AISEI_9

Pandemi covid-19 (corona virus) membuat situasi disemua sektor kehidupan masyarakat mengalami  perubah yang sangat besar. Dunia pendidikan merupakan salah satu yang terdampak dari situasi yang tidak menentu. Pembelajaran yang pada awalnya dilakukan secara tatap muka kini harus dilakukan secara online (daring).

Dalam situasi seperti ini guru dipaksa mampu menghadirkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Belajar secara daring (dalam jaringan) atau pun luring (luar jaringan) tetaplah menghadirkan perasaan yang menggembirakan baik bagi murid maupun gurunya. Dengan pembelajaran daring yang menyenangkan diharapkan materi yang disampaikan akan mampu diterima oleh para murid.

Agar pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik guru hendaknya mampu menjadi asitek atau sutradara pembelajaran. Dengan menjadi arsitek atau sutradara tentu guru dituntut mampu membuat skenario atau sistematika rencana pembelajaran yang baik. Selain mampu membuat sekenario rencana pembelajaran guru diharapkan mampu berpikir kreatif  atau berinovasi dalam melakukan pembaharuan pembelajaran.

Seorang guru dapat dengan bebas melakukan pembelajaran sesuai karakteristik siswa dan kondisi lingkungan belajarnya. Untuk menunjang ketercapaian dalam sebuah pembelajaran daring guru dapat berkolaboratif dengan teman sejawat, spesialis materi, pendesain visual, pendesain web atau pendesain pembelajaran.

Sering-seringlah mendengar dan memperhatikan siswa saat dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Membagi panggung pada siswa adalah salah satu bentuk penghargaan yang mampu mengubah pola pikir siswa terhadap kejenuhan belajar secara daring mau pun luring. Jika guru hanya fokus pada pemberian tugas atau materi yang harus diselesaikan siswa tentu akan memunculkan kejenuhan dalam pembelajaran daring dan luring.

Mengkombinasikan pembelajaran berbagai aplikasi  merupakan metode yang mampu mengatasi tingkat kejenuhan dalam belajar. Dalam situasi pandemi belajar daring dituntut mampu membuat peserta didik nyaman. Untuk menghadirkan kenyamanan tersebut guru dapat melakukan tatap muka melalui zoom, Video Call WhatsApp (WhatsApp Grup), Youtube chanel atau lainnya. Bahkan jangan segan-segan untuk guru menghubungi siswa yang belum menyelesaikan tugas. Dengan demikian guru dapat mengetahui kesulitan apa yang dialami siswa. 

Tidak menutup kemungkinan dalam pelaksanaan pembelajaran daring adanya ketidak jujuran orang tua maupun siswa. Bahkan pemicu ketidak jujuran tersebut dapat terjadi karena guru hanya memberikan tugas melalui pesan whatsApp atau menonton video pembelajaran tanpa ada interaksi guru dan siswa.
Peristiwa tersebut memunculkan tugas yang diberikan dan belum dipahami siswa dikerjakan oleh orang tua, hal ini dilakukan hanya untuk mengugurkan kewajiban siswa terhadap tugas yang diberikan guru.

Tuntutan seorang guru dalam mengelola pembelajaran daring dan luring yang efektif dan menyenangkan akan terwujud jika mampu mengatasi permasalahan dengan 4(empat) prinsip solusi.
1. Kurangi ketergantungan siswa kepada pengajar, orang tua, dan pihak lain.
2. Berikan kepada siswa bahan pembelajaran yang dapat dipelajari secara mandiri.
3. Fasilitasi siswa dengan sarana belajar yang dapat disediakan oleh lembaga pendidikan dan keluarga agar dapat belajar mandiri dengan mengunakan bahan pembelajaran yang mandiri.
4. Guru harus mau terus belajar dan meningkatkan kemampuan dibidang teknologi khususnya digital tools untuk belajar interaktif.


Gambar kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) siswa SDN Sumberjaya 05 tahun 2020
 

Kamis, 03 September 2020

Literasi

 

PELANGI LITERASI

Oleh Surmanto Adam



Elok warna dan rupamu menghias dinding kebodohanku

Setiap untai kata memendam seribu makna

Torehan cerita memberi pesan penuh etika

Dan setiap ragam bahasa membuat hasrat selalu ingin bertanya

 

Literasi,

Menyadarkan aku dari kekhilafan yang terlalu panjang

Membangkitkan hasrat mencari kebenaran dari sebuah kenyataan

Membuka mataku dari kebutaan aksara dan retorika Bahasa

Memberikan aku akan pemahaman kehidupan

 

Pelangi literasi,

Ajarkan aku akan ketidak tahuan

Berfikir ilmiah bertindak relistis

Dan bertutur kata bak sang pujangga yang menjunjung nilai dan norma

 

Oh pelangi literasi

 

SAHABAT

 

Oleh Surmanto Adam

Sahabat,

Anganku seakan pergi entah kemana

Mencari jejak langkah yang terpenggal

Mendaki bukit dan menapaki lembah yang terjal

Aku tetap mencari


Sahabat,

Entah berapa lembaran surat yang aku kirimkan

Entah berapa banyak untaian kata yang telah aku catatkan

Dan entah berapa banyak untaian kalimat rindu yang aku tuangkan

Untukmu suratku, sahabat


Sahabat

Keyakinanku akan kesetiaanmu seakan tumbuh menjulang pada sanubariku

Merobek dinding peradaban yang kian angkuh dan pongah

Aku tak peduli


Sahabat,

Waktu bergulir diatas seutas zaman

Melangkah maju meninggalkan teori-teori kehidupan

Membelah tebing menyebrangi lautan dan menembus pembatas persahabatan


Sahabat, 

Disini aku tak pernah bosan menunggu

Menunggu cerita tentang kebahagiaanmu pada kampong halaman

Meski hanya sepucuk surat darimu

RELEVANSI In House Training (IHT) KURIKULUM MERDEKA TERHADAP PENGEMBANGAN KETERAMPILAN GURU

Oleh S. Adam Abu Tsaqif Bekasi, 3 Agustus 2023           Cikal bakal Kurikulum Merdeka diawali dengan adanya Kurikulum Darurat sebagai upa...