Rasa Khawatir itu Telah Aku Titipkan
Melawan Diagnosa Medis
Detik-detik Pembukaan Sembilan
Waktu menunjukan pukul 24.00, rasa sakit sesekali datang. Aku hanya mampu memandang wajah istriku yang diliputi rasa sakit. Sesekali ia bergumam "Abi sakit bi!", mendengar rintihannya aku tidak mampu berbuat banyak, "Sabar cinta, banyaklah memohon pada Allah, dan berzikirlah semampu kita!". kataku menguatkan semangatnya. Sejujurnya rasa tegangku semakin waktu semakin bertambah. Aku tidak memiliki kekuatan apa pun, yang aku mampu hanya melafalkan kalimat-kalimat permohonan pada Allah Zat Yang Maha Menentukan.
Mataku menatap sebuah jam dinding di sudut ruang, jarumnya menunjukkan angka 12.30 WIB. Tidak terasa kini sudah pukul setengah satu, rasa sakit pada perut istriku pun semakin kencang. "Abi kok lama sih?", tanya istriku. Terkadang aku dimintanya menemui bidan jaga, tapi aku berpura-pura menurutinya dan ku katakan "Iya nanti dilihat katanya!", kataku hanya sekedar memberi ketenangan.
"Abi antar Ummi ke toilet!" ucap istriku "Hayu, tapi pelan-pelan (perlahan) saja!", kataku. Sungguh tidak tega aku melihat rasa sakit dengan tangan diinfus seperti ini. Aku menunggu persis di depan pintu toilet dengan sedikit kantuk yang sejak tadi ku lawan. Sesekali ku sandarkan kepalaku hanya untuk memberi rasa rileks. Namun semua usaha telah ku lakukan tetap saja otot dan pikiranku semakin kencang.
Duapuluh lima menit berselang pintu toilet pun terbuka, "Abi tolong bantu pegang kain ini!", sontak saja aku terperanjat melihat istri yang membersihkan cairan begitu banyak. Dalam benakku pun bertanya mungkinkah ini yang dimaksud ketuban entah apa lah namanya. Semakin kencang saja degub jantungku melihat apa yang nampak di kedua mataku ini.
Kuantar istri tercintaku menuju ranjang persalinan, "Abi, tolong panggilkan bidan dong!", lirih kudengar dari bibir istriku yang nampak merintih menahan sakit. Segera saja aku keluar dari ruang persalinan. Kucari pintu menuju ruang bidan, setengah kalut aku mencari dimana pintunya sebab memang aku belum tahu. Untung saja ruangan itu tampak jelas karena hanya dibatasi dinding kaca. Seorang bidan muda menanyakan dari dalam, "Ada apa pak?", tanyanya, "Maaf Bu Bidan, istri saya nampaknya sudah mengeluarkan cairan!". Sejenak ia diam dan sambil merapikan beberapa alat persalinan. "Bapak tunggu saja ya di ruangan, nanti saya lihat!", ucapnya dengan ramah.
Sekembaliku dari ruang bidan istriku langsung menanyakan, "Mana abi bidannya?", sepertinya memang semakin sakit yang dirasakan. "Sabar ya Cin, nanti juga datang!", benar saja tak seberapa lama datang dua orang bidan dengan perlengkapan persalinan. "Bapak tolong beli pembalut besar ya, di depan rumah sakit ini ada mini market!", minta salah satu bidan padaku, "Baik sus!" kataku sambil melangkah pergi.
Masa Yang Menegangkan
Semua persiapan telah hampir rampung, perlengkapan medis pun sudah nampak disiapkan satu persatu. Dokter kandungan sudah datang dan memeriksa perkembangan istriku. Semakin sakit nampak dirasakan istriku. Aku hanya mampu memberikan semangat dan batin tak pernah kulepaskan dari bermunazat pada Allah. Aku telah menitipkan semua kegelisahan disetiap doa-doa dengan penuh pengharapan.
Kesibukan bidan dan dokter mulai nampak, bersyukur lebih dari lima orang bidan membantu persalinan istriku. Jerit dan rintihan semakin keras saja, tersengal nafas istriku sesekali begitu berat. Keringat deras bercucuran membasahi kening. Para bidan memberikan semangat tak pernah henti-hentinya. Kuhadapi semua dengan sedikit tenang dan sesekali menyeka cucuran keringat istriku.
"Abi, ummi tidak kuat lagi!", terdengar lirih di telingaku. "Ummi pasti kuat, abi temani di sini kok!". kataku memberikan semangat. "Wah, ibu hebat!", ucap beberapa bidan yang membantu persalinan, "Ayo bu sedikit lagi!", ucap bidan. Jujur saja aku tidak sanggup melihat perasaan sakit istruku. Berkali-kali pula aku hanya mampu berdoa atas keselamatan bagi mereka orang yang ku cintai. Ini adalah kali kedua aku mendampingi istri dalam proses persalinan setelah Amiirah Ashma' Fikriyyah, itu pun sepuluh tahun silam. Anak pertamaku saja Abdul Harits Syahiir Muyassar yang tidak dapat aku dampingi kelahirannya, karena bidan melarang tidak ingin mengganggu kerjaku ketika itu.
Agak sedikit kaget aku melihat anak ketigaku lahir dengan berat 4 kilogram dan panjang 52 centimeter. "Wah, ada monasnya!", ucap seorang bidan dengan nada senang telah mampu membantu persalinan istriku. "Tadi itu agak sulit keluar karena salah satu punggung bayi tidak dapat keluar sempurna, makanya agak sedikit dibantu!", ujar bidan yang lain. Dokter segera mengurus dan memeriksa si kecil dan seketika itu terdengar tangis yang keras dari anakku.
Bahagia yang tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata, aku hanya mampu mengucakkan rasa syukur kepada Allah Subhanallahu wata'ala. DIA-lah yang telah mengatur segala urusan manusia dan DIA-lah mampu menyempurnakan apa yang dikehendaki. Kini aku merasa lebih bahagia saat Muhammad Tsaqif Asy-Syuja'i mengisi hari-hari keluarga ku di masa pandemi ini.
Kini tidak terasa usia Tsaqif (nama yang sering dipanggil tetangga) telah memasuki tujuh bulan belum lama ia mengalami demam tinggi. Rasa gelisa menghantui aku dan istri. Keadaan ini terjadi sekitar tiga hari, tidak ingin terjadi sebagaimana abangnya dulu harus rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah maka segera saja kularikan ke sebuah klinik yang biasa kami berobat saat mengalami kondisi kurang sehat. Benar saja Tsaqif mengalami gangguan pencernaan, mungkin karena sesekali ia diberi kerupuk. Syukurlah kini ia telah sehat kembali. Hari-hari menyenangkan tertata kembali.
Terima kasih istriku, terima kasih untuk semua yang telah menguatkan kondisi saat itu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. aamiin
Masya Allah, ibu yang hebat dan kuat, suami yang luar biasa!
BalasHapusTurut tegang saya membaca kisahnya, Pak.
Keren.
Semoga putra bapa tetap sehat dan sukses dunia akherat. Aamiin.
aterima kasih kakakku yang baik atas segalanya
Hapus